lorong29

cover korea jiwa indonesia, all about my life, all about my favorite

tafsir surat An-Nahl 125

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Islam adalah ajaran Allah yang sempurna dan diturunkan untuk mengatur kehidupan individu dan masyarakat. Akan tetapi, kesempurnaan ajaran islam hanya merupakan ide dan angan-angan saja jika ajaran yang baik itu tidak disampaikan kepada manusia. Lebih-lebih jika ajaran itu tidak diamalkan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, dakwah merupakan suatu aktivitas yang sangat penting dalam keseluruhan ajaran islam. Dengan dakwah, islam dapat diketahui, dihayati, dan diamalkan oleh manusia dari generasi ke generasi berikutnya. Sebaliknya, tanpa dakwah terputuslah generasi manusia yang mengamalkan islam dan selanjutnya islam akan lenyap dari permukaan bumi. Kenyataan eratnya kaitan dakwah dan islam dalam sejarah penyebaran sejak diturunkan islam kepada manusia Max Muller membuat pengakuan bahwa islam adalah agama dakwah yang di dalamnya usaha menyebarkan kebenaran dan mengajak orang-orang yang belum memercayainya dianggap sebagai tugas suci oleh pendirinya atau oleh para pengikutnya.

Melemahnya kekuatan rohaniah kaum muslimin saat ini banyak disebabkan karena mereka secara berangsur-angsur meninggalkan ajaran islam dalam banyak segi kehidupannya satu-satunya sebab kemunduran social dan cultural kaum muslimin terletak pada realitas bahwa mereka secara bersangsur-angsur melalaikan jiwa ajaran islam. Islam adalah agama mereka, akan tetapi tinggal jasad jiwa mereka. Melemahnya kesadaran manusi untuk beragama atau kekurang pekaan mereka terhadap panggilan ilahiah menurut Abul Hasan An-Nadwy disebabkan hilangnya indra keenam, yaitu indra agama.

Dakwah islam bertugas memfungsikan kembali indra keagamaan manusia yang memang telah menjadi fikri asalnya, agar mereka dapat menghayati tujuan hidup yang sebenarnya untuk berbakti kepada Allah. Sayid qutub mengatakan bahwa (risalah) atau dakwah islam ialah mengajak semua orang untuk tunduk kepada Allah Swt. Taat kepada Rosul. Dan yakin akan hari akhirat. Sasarannya adalah mengeluarkan manusia menuju penyembahan dan penyerahan seluruh jiwa raga kepada Allah Swt. Dari kesempitan dunia ke alam yang lurus dan dari penindasan agama-agama lain sudahlah nyata dan usaha-usaha memahaminya semakin mudah sebaliknya, kebatilan sudah semakin tampak serta akibat-akibatnya sudah dirasakan di mana-mana. Dengan demikian dakwah yang menjadi tanggung jawa kaum muslimin adalah bertugas menuntun manusia ke alam terang, jalan kebenaran dan mengeluarkan manusia yang berada dalam kegelapan kedalam penuh cahaya.

Dari uraian di atas, maka dapat disebutkan fungsi dakwah adalah: Dakwah berfungsi untuk menyeberkan islam kepada manusia sebagai individu dan masyarakat sehingga mereka merasakan rahmat islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin bagi seluruh makhluk Allah SWT. Dakwah berfungsi melestarikan nilai-nilai islam dari generasi ke generasi kaum muslimin berikutnya sehingga kelangsungan ajaran islam beserta pemeluknyadari generasi ke generasi berikutnya tidak terputus. Dakwah berfungsi korektif artinya meluruskan akhlak yang bengkok, mencegah kemungkaran dan mengeluarkan manusia dari kegelapan rohani.

BAB II

PEMBAHASAN

  1.  Surat An-Nahl: 125

äí÷Š$# 4’n<Î) È@‹Î6y™ y7În/u‘ ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u‘ uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#‹Î6y™ ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïωtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[1] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 125)[2]

  1. Tafsiran Al-Qur’an

Kata  (pyJõ3Ïtø  ) hikmah antara lain berarti yang paling utama dari segala sesuatu[3], baik pengetahuan maupun perbuatan. Ia adalah pengetahuan atau tindakan yang bebas dari kesalahan atau kekeliruan.  Hikmah juga diartikan sebagai sesuatau yang bila digunakan /diperhatikan akan mendatangkan kemashalatan dan kemudahan yang besar atau lebih besar, serta menghalangi terjadinya mudharat atau kesulitan yang besar atau lebih besar. Makna ini ditarik dari kata Hakamah, yang berarti kendali karena kendali menghalangi hewan/kenedaraan mengarah  ke arah yang tidak diinginkan, atau menjadi liar. Memilih perbuatan yang terbaik dan sesuai adalah perwujudan dari hikmah.  Memilih perbuatan yang terbaik dan sesuai dari dua hal yang buruk pun dinamai hikmah, dan pelakunya dinamai hakim (bijaksana). Siapa yang tepat dalam penilaiannya dan dalam pengaturannya, dialah yang wajar menyandang sifat ini atau dengan kata lain dia yang hakim. Thahir ibn ‘asyur menggarisbawahi bahwa hikmah adalah nama himpuna segala ucapan atau pengetahuan yang mengarah kepada perbaikan keadaan dan kepercayaan manusia secara bersinambung. Thabathaba’i mengutip ar-raghib al-ashfahani yang menyatakan secara singkat bahwa hikmah adalah sesuatu yang mengena kebenaran berdasar ilmu dan akal. Dengan demikian hikmah adalah argumen yang menghasilkan kebenaran yang tidak diragukan, tidak mengandung kelemahan tidakk juga kekaburan.

Kata (psàÏãöqyJø9$#) al-mau’izhah terambil dari kata  wa’azha yang berarti nasehat. Mau’izhah adalah uraian yang menyentuh hati yang mengantar pada kebaikan. Demikian dikemukakan oleh banyak ulama. Sedang kata (Oßgø9ω»y_) jadilhum terambil dari kata jidal yang bermakna diskusi atau bukti-bukti yang mematahkan alasan atau dalil mitra diskusi dan menjadikannya tidak dapat bertahan, baik yang dipaparkan itu diterima oleh semua orang maupun hanya oleh mitra bicara.

Ditemukan di atas, bahwa mau’izhah hendaknya disampaikan dengan puZ|¡pt  hasanah/baik, sedang perintah berjidal disifati dengan kata `|¡ômr& ahsan/yang terbaik, bukan sekadar yang baik. Keduanya berbeda dengan hikmah yang tidak disifati oleh satu sifat pun. Ini berarti bahwa mau’izhah ada yang baik dan ada yang tidak baik, sedang jidal ada tiga macam, yang baik, yang terbaik, dan yang buruk.

Pendapat Para Ahli Tafsir

1.    Tafsir al-Jalâlayn[4]

Serulah (manusia, wahai Muhammad) ke jalan Rabb-mu (agama-Nya) dengan hikmah (dengan al-Quran) dan nasihat yang baik (nasihat-nasihat atau perkataan yang halus)  dan debatlah mereka dengan debat terbaik (debat yang terbaik seperti menyeru manusia kepada Allah dengan ayat-ayat-Nya dan menyeru manusia kepada hujah).  Sesungguhnya Rabb-mu, Dialah Yang Mahatahu, yakni Mahatahu tentang siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Dia Mahatahu atas orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Hal ini terjadi sebelum ada perintah berperang. Ketika Hamzah dicincang dan meninggal dunia pada Perang Uhud turunlah ayat berikutnya.

2.    Tafsir al-Quthubi[5]

Ayat ini diturunkan di Makkah saat Nabi saw. diperintahkan untuk bersikap damai kepada kaum Quraisy.  Beliau diperintahkan untuk menyeru pada agama Allah dengan lembut (talathuf), layyin, tidak bersikap kasar (mukhâsanah), dan tidak menggunakan kekerasan (ta’nîf). Demikian pula kaum Muslim; hingga Hari Kiamat dinasihatkan dengan hal tersebut. Ayat ini bersifat muhkam dalam kaitannya dengan orang-orang durhaka dan telah di-mansûkh oleh ayat perang berkaitan dengan kaum kafir.  Ada pula yang mengatakan bahwa bila terhadap orang kafir dapat dilakukan cara tersebut, serta terdapat harapan mereka untuk beriman tanpa peperangan, maka ayat tersebut dalam keadaan demikian bersifat muhkamWallâhu a’lam.

3.    Tafsir ath-Thabari[6]

Allah Swt. mengingatkan Nabi saw., “Serulah, wahai Muhammad, orang-orang yang engkau diutus Rabb-mu kepada mereka dengan seruan untuk taat ke jalan Rabb-mu, yakni ke jalan yang telah Dia syariatkan bagi makhluk-Nya yakni Islam, dengan hikmah (yakni dengan wahyu Allah yang telah diwahyukan kepadamu dan kitab-Nya yang telah Dia wahyukan kepadamu) dan dengan nasihat yang baik (al-maw‘izhah al-hasanah, yakni dengan ungkapan indah yang Allah jadikan hujah atas mereka di dalam kitab-Nya dan ingatkan juga mereka dengannya tentang apa yang diturunkan-Nya sebagaimana yang banyak tersebar dalam surat ini dan ingatkan mereka dengan apa yang ditunkan Allah Swt. tentang berbagai kenikmatan-Nya bagi mereka), serta debatlah mereka dengan cara baik (yakni bantahlah mereka dengan bantahan yang terbaik), engkau berpaling dari siksaan yang mereka berikan kepadamu sebagai respon mereka terhadap apa yang engkau sampaikan. Janganlah engkau mendurhakai-Nya dengan tidak menyampaikan risalah Rabb-mu yang diwajibkan kepadamu.

4.    Tafsir al-Qurân il-‘Azhîm[7]

Allah, Zat Yang Mahatinggi, berfirman dengan memerintahkan Rasul-Nya, Muhammad saw., untuk menyeru segenap makhluk kepada Allah dengan hikmah.  Ibn Jarir menyatakan, bahwa maksud dari hal tersebut adalah apa saja yang diturunkan kepadanya baik al-Quran, as-Sunnah, maupun nasihat yang baik; artinya dengan apa saja yang dikandungnya berupa peringatan (zawâjir) dan realitas-realitas manusia.  Peringatkanlah mereka dengannya supaya mereka waspada terhadap murka Allah Swt.  ‘Debatlah mereka dengan debat terbaik’ artinya barangsiapa di antara mereka yang berhujah hingga berdebat dan berbantahan maka lakukanlah hal tersebut dengan cara yang baik, berteman, lembut, dan perkataan yang baik.  Hal ini seperti firman Allah Swt. dalam surat al-‘Ankabut (29): 46 (yang artinya): Janganlah kalian berdebat dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka. Dia memerintahkannya untuk bersikap lembut seperti halnya Dia memerintahkan hal tersebut kepada Musa a.s. dan Harun a.s. ketika keduanya diutus menghadap Fir’aun seperti disebut dalam surat Thaha (20) ayat 44 (yang artinya):  Katakanlah oleh kalian berdua kepadanya perkataan lembut semoga dia mendapat peringatan atau takut. Firman-Nya “Sesungguhnya Rabb-mu Dialah Maha Mengetahui terhadap siapa yang sesat dari jalan-Nya” artinya Dia telah mengetahui orang yang celaka dan bahagia di antara mereka.  Oleh karena itu, serulah mereka kepada Allah, dan janganlah engkau merasa rugi atas mereka yang sesat, sebab bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapatkan petunjuk; engkau semata-mata pemberi peringatan, engkau wajib menyampaikan dan Kami yang wajib menghisabnya.

  1. Kandungan Surat An-Nahl: 125

Metode dakwah Rasulullah mengacu pada anjuran Allah mengenai cara berdakwah yang tercantum dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 125. Ayat ini mencakup beberapa metode dakwah sebagai berikut:

  1. Disampaikan dengan cara hikmah dan pengajaran yang baik

Cara hikmah yang dimaksud di sini adalah perkataan yang tegas dan benar yang membedakan yang hak dan yang bathil. Dakwah harus disampaikan dengan cara yang hikmah, hingga tidak manimbulkan hal yang samar-samar yang membingungkan. Pengajaran yang baik di dalam metode dakwah Rasulullah juga dimaknai sebagai dakwah yang baik disampaikan dengan cara yang lemah lembut. Rasulullah telah mengajarkan kelemah lembutan yang beliau tunjukkan tak hanya kepada para sahabat dan orang-orang muslim. Namun juga tetap lemah lembut pada musuh yang akan membunuh beliau. Inilah ketinggian akhlak berdakwah Rasulullah yang mengacu pada anjuran hikmah dalam Al-Qur’an.

  1. Berdebat dengan Cara yang Baik

Metode dakwah Rasulullah senantiasa menghindari cara berdebat yang hanya akan melemahkan seorang dai. Rasulullah senantiasa menghindari perdebatan yang diajak oleh kaum kafir Qurays. Utusan tersebut merayu dan membujuk Rasulullah untuk meninggalkan dakwah yang diperintahkan Allah. Sebagai gantinya kaum kafir Qurays akan memberikan apa saja yang dikehendaki Rasulullah seperti harta, wanita, dan jabatan. Dalam kondisi perdebatan yang sangat penting tersebut (menuntut pada akidah) Rasulullah menunjukkan sikap yang tenang dan cerdas. Beliau mempersilahkan utusan tersebut selesai berbicara, beliau menanyakan pada utusan tersebut: “sudah selesai Anda berbicara?”. Inilah bentuk keteladanan Rasulullah yang diajarkan kepada ummat manusia dalam menyebarkan dan menyampaikan ajaran dakwah. Bahkan dalam kondisi perdebatan yang sudah mencapai klimaks nilai-nilai dakwah sekalipun Rasulullah tetap mengajarkan kepada manusia cara berdebat dan berargumen yang baik dan bijak.

  1. Membalas Kejahatan dengan Kebaikan

Metode dakwah Rasulullah lainnya yang diajarkan kepada ummatnya adalah membalas sikap jahat yang dilakukan objek dakwah dengan akhlak mulia yang mengetuk hati objek dakwah, untuk selanjutnya mengantarkan kepada keimanan. Suatu ketika Rasulullah sering dicaci oleh seorang pengemis buta, Rasulullah senantiasa bersabar menyuapi dan memberi makan pengemis. Sementara dirinya selalu dihujat. Setelah Rasulullah wafat, barulah si pengemis tersebut tau bahwa yang menyuapi dan memberinya makan selama ini adalah Rasulullah. Barulah pengemis tersebut masuk Islam.

Literatur ilmu dakwah dalam membicarakan metode dakwah, selalu merujuk firman Allah SWT. Dalam Al-Qur’an surat An-Nahl 125. Yang menjelaskan sekurang-kurangnya ada tiga cara atau metode dalam dakwah, yakni metode hikmah, metode mau’izah dan metode mujadalah. Ketiga metode dapat dipergunakan sesuai dengan objek yang dihadapi oleh seorang da’I atau da’iyah di medan dakwahnya.

Metode bi al-hikmah mengandung pengertian yang luas. Kata al-hikmah sendiri di dalam Al-qur’an dalam berbagai bentuk derivasinya ditemukan sebanyak 208 kali. Secara harfiah kata tersebut mengandung makna kebijaksanaan. Bila dilihat dari sudut pemakaiannya, kata tersebut mengandung arti bermacam-macam, seperti:

  1. Kenabian (nubuwwah)
  2. Pengetahuan tentang Al-Qur’an
  3. Kebijaksanaan pembicaraan dan perbuatan
  4. Pengetahuan tentang hakikat kebenaran dan perwujudannya dalam kehidupan
  5. Ilmu yang bermanfaat, ilmu amaliyah dan aktivitas yang membawa kepada kemaslahatan ummat
  6. Meletakkan suatu urusan pada tempatnya yang benar
  7. Mengetahui kebenaran dan beramal dengan kebenaran tersebut, pengetahuan yang lurus dalam pembicaraan dan amal
  8. Kondisi psikologis seperti ketundukan, kepasrahan dan takut kepada Allah
  9. Sunnah nabi
  10. Posisi wara terhadap agama Allah
  11. Sikap adil sehingga pemikiran dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya

Syekh Muhammad Abduh memberikan definisi hikmah sebagai berikut:

 “hikmah adalah ilmu yang sahih (benar dan sehat) yang menggerakkan kemauan untuk melakukan suatu perbuatan yang bermanfaat dan berguna

Ketika menyimpulkan pemaknaan terhadap hikmah ini Moh. Natsir mengatakan bahwa hikmah lebih dari semata-mata ilmu. Ia adalah ilmu yang sehat, yang mudah dicernakan; ilmu yang berpadu dengan rasa perisa, sehingga menjadi daya penggerak untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat, berguna. Kalau dibawa ke bidang dakwah: untuk melakukan sesuatu tindakan yang berguna dan efektif.

Dalam kegiatan dakwah metode hikmah muncul dalam berbagai bentuk, yakni: a) mengenal strata mad’u; b)kapan harus bicara, kapan harus diam; c)mencari titik temu; d)toleran tanpa kehilangan sibghah; e)memilih kata yang tepat; f)cara berpisah; g)uswatun hasanah dan h)lisanul hal.

Islam adalah agama dakwah[8] artinya agama yang selalu mendorong pemeluknya untuk senantiasa aktif melakukan kegiatan dakwah. Maju mundurnya umat islam sangat bergantung dan berkaitan erat dengan kegiatan dakwah yang dilakukannya[9], karena itu Al-Qur’an dalam menyebut kegiatan dakwah dengan ahsanu qiaula. Dengan kata lain bisa disimpulkan bahwa dakwah menempati posisi yang tinggi dan mulia dalam kemajuan agama islam, tidak dapat dibayangkan apabila kegiatan dakwah mengalami kelumpuhan yang disebabkan oleh berbagai faktor terlebih pada era globalisasi sekarang ini, di mana berbagai informasi masuk begitu cepat dan instan yang tidak dapat dibendung lagi. Ummat islam harus dapat memilah dan menyaring informasi tersebut sehingga tidak bertentangan dengan nilai-nilai islam.

Implikasi dari pernyataan islam sebagai agama dakwah menuntut ummatnya agar selalu menyampaikan dakwah, karena kegiatan ini merupakan aktivitas yang tidak pernah usai selama kahidupan dunia masih berlangsung dan akan terus melekat dalam situasi dan kondisi apapun bentuk dan coraknya.

Dakwah islam adalah tugas suci yang dibebankan kepada setiap muslim di mana saja ia berada, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Rosulullah SAW, kewajiban dakwah menyerukan, dan menyampaikan agama islam kepada masyarakat.

Dakwah islam, dakwah yang bertujuan untuk memancing dan mengharapkan potensi fitri manusia agar eksistensi mereka punya makna dihadapan tuhan dan sejarah. Sekali lagi perlu ditegaskan di sini bahwa tugas dakwah adalah tugas ummat secara keseluruhan bukan hanya tugas kelompok tertentu ummat islam.

Berdasarkan surat An-Nahl bentuk metode dakwah yaitu:

  1. Al-Hikmah

M. Abduh berpendapat bahwa, hikmah adalah mengetahui rahasia dan faedah di dalam tiap-tiap hal. Hikmah juga digunakan dalam arti ucapan yang sedikit lafadzh akan tetapi banyak makna  ataupun diartikan meletakkan sesuatu pada tempat yang semestinya.

Al-hikmah diartikan pula sebagai al’adl (keadilan), al-haq (kebenaran), al-hilm (ketabahan), al-ilm (pengetahuan), dan an-nubuah (kenabian). Di samping itu, al-hikmah juga diartikan sebagai menempatkan sesuatu pada proporsinya. Sebagai metode dakwah, al-hikmah diartikan bijaksana, akal budi yang mulia, dada yang lapang, hati yang bersih dan menarik perhatian orang pada agama dan tuhan.

Dari beberapa pengertian di atas dapat dipahami bahwa al-hikmah adalah merupakan kemampuan dan keteapatan da’I dalam memilih, menilah dan menyelaraskan teknik dakwah dengan kondisi objektif mad’u. al-hikmah merupakan kemampuan da’I dalam menjelaskan doktrin-doktrin islam serta realitas yang ada dengan argumentasi logis dan bahasa yang komunikatif. Oleh karena itu, al-hikmah sebagai sebuah sistem yang menyatukan antara kemampuan teoritis dan praktis dalam berdakwah.

Dengan demikian, jika hikmah dikaitkan dengan dakwah, akan ditemukan bahwa hikmah merupakan peringatan kepada juru dakwah untuk tidak menggunakan satu bentuk metode saja. Sebaliknya mereka harus menggunakan berbagai macam metode sesuai dengan realitas yang dihadapi dan sikap masyarakat terhadap agama islam. Sebab sudah jelas bahwa dakwah tidak akan berhasil menjadi suatu wujud yang riil jika metode dakwah yangdipakai untuk menghadapi orang bodoh sama dengan yang dipakai untuk menghadapi orang terpelajar. Kemampuan kedua kelompok tersebut dalam berpikir dan menangkap dakwah yang disampaikan tidak dapat disamakan, daya pengungkapan dan pikiran yang dimiliki manusia berbeda-beda.

  1. Al-mau’idzah al-hasanah

Metode mau’izah hasanah mengandung arti cara memberi pengajaran yang baik. Kata mau’izah sendiri dalam Al-Qur’an dalam segala bentuknya terulang sebanyak 25 kali. Bila diperhatikan pemaknaan mau’izah hasanah dalam ayat-ayat Al-Qur’an, maka tekanan tertuju pada peringatan yang baik dan dapat menyentuh hati sanubari seseorang, sehingga pada akhirnya audiens terdorong untuk berbuat baik. Metode ini terdiri dari berbagai bentuk, yakni; nasihat, tabsyir wa tanzir, dan wasiyat.

Mau’idzah hasanah diklasifikasikan dalam beberapa bentuk:

  1. Nasihat atau petuah
  2. Bimbingan, pengajaran (pendidikan)
  3. Kisah-kisah
  4. Kabar gembira dan peringatan
  5. Wasiat (pesan-pesan positif)

Menurut K.H mahfudz kata tersebut mengandung arti:

  1. Didengar orang, lebih banyak lebih baik suara panggilannya
  2. Dituruti orang, lebih banyak lebih baik maksud tujuannya sehingga menjadi lebih besar kuantitas manusia yang kembali ke jalan tuhannya, yaitu jalan Allah SWT.

Jadi Mau’idzah hasanah adalah kata-kata yang masuk ke dalam kalbu dengan penuh kasih sayang dan ke dalam perasaan dengan penuh kelembutan; tidak membongkar atau membeberkan kesalahan orang lain sebab kelemah-lembutan dalam menasihati seringkali dapat meluluhkan hati yang keras dan menjinakkan kalbu yang liar, ia lebih mudah melahirkan kebaikan daripada larangan dan ancaman.

  1. Al-mujadalah bi-al-lati hiya ahsan

Menurut Dr. Sayyid Muhammad Thantawi ialah, suatu upaya yang bertujuan untuk mengalahkan pendapat lawan dengan cara menyajikan argumentasi dan bukti yang kuat. Al-mijadalah merupakan tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, yang tidak melahirkan permusuhan dengan tujuan agar lawan menerima  pendapat yang diajukan dengan memberikan argumentasi dan bukti yang kuat. Antara satu dengan yang lainnya saling menghormati dan menghargai pendapat keduanya berpegang pada kebenaran, mengakui kebenaran pihak lain dan ikhlas menerima hukuman kebenaran tersebut.

Sumber metode dakwah:

1)      Al-qur’an

2)      Sunnah rasul

3)      Sejarah hidup para sahabat da fuqaha

4)      Pengalaman

Aplikasi metode dakwah rasulullah:

a)      Pendekatan personal[10]

b)      Pendekatan pendidikan

c)      Pendekatan diskusi

d)     Pendekatan penawaran

e)      Pendekatan misi

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Metode dakwah yang terkandung dalam surat Al-Qur’an, An-Nahl ayat 125 tentang Metode Dakwah adalah:

  • Disampaikan dengan cara hikmah dan pengajaran yang baik
  • Berdebat dengan Cara yang Baik
  • Membalas Kejahatan dengan Kebaikan

Dalam kegiatan dakwah metode hikmah muncul dalam berbagai bentuk, yakni: a) mengenal strata mad’u; b)kapan harus bicara, kapan harus diam; c)mencari titik temu; d)toleran tanpa kehilangan sibghah; e)memilih kata yang tepat; f)cara berpisah; g)uswatun hasanah dan h)lisanul hal.

Sedangkan bentuk metode dakwah yang terkandung dalam surat An-Nahl: 125 adalah:

  • Metode hikmah adalah mengetahui rahasia dan faedah di dalam tiap-tiap hal
  • Metode mau’izah hasanah mengandung arti cara memberi pengajaran yang baik
  • Metode Al-mujadalah bi-al-lati hiya ahsan upaya yang bertujuan untuk mengalahkan pendapat lawan dengan cara menyajikan argumentasi dan bukti yang kuat

Sumber metode dakwah:

  • Al-qur’an
  • Sunnah rasul
  • Sejarah hidup para sahabat da fuqaha
  • Pengalaman

Aplikasi metode dakwah rasulullah:

  • Pendekatan personal[11]
  • Pendekatan pendidikan
  • Pendekatan diskusi
  • Pendekatan penawaran
  • Pendekatan misi

DAFTAR PUSTAKA

Ad-Dimasyqi, Ibn Katsir. 1412 H. Dar ul-Fikr. jilid II

Ahmad, Muhammad bin, Abdurrahman bin Abi Bakr al-Mahalli. As-Suyuthi, Dar ul-Hadîts. Kairo

Isma’il, Al-imam Abdul Fida. 2003. Tafsir Ibnu Kasir. Bandung: Sinar Baru Algensindo

http://www.google.com

http://www.wikipedia.com

Ja’far, Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Khalid Ath Thabari Abu. Dâr ul-Fir. Beirut. Jilid 14

Muriah, Siti. 2000. Metodologi Dakwah Kontemporer. Yogyakarta: Mitra Pustaka

Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati

‘Abdillah, Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farah al-Qurthubi Abu.  Dâr Sya’b. cetakan II, Jilid X.


[1] Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

[2] Al-imam Abdul Fida Isma’il, Tafsir Ibnu Kasir, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2003), halm. 278

[3] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), halm. 384

[4] Muhammad bin Ahmad, Abdurrahman bin Abi Bakr al-Mahalli, As-Suyuthi, Dar ul-Hadîts (Kairo) hlm.  363

[5] Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farah al-Qurthubi Abu ‘Abdillah, Dâr Sya’b (Kairo, 1373 H) cetakan II, Jilid X, halm. 200.

[6] Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Khalid Ath Thabari Abu Ja’far, 224-310 H, Dâr ul-Fir, (Beirut,1405 H), Jilid 14, Halm.194.

[7] Ibn Katsir ad-Dimasyqi, 1412 H, Dar ul-Fikr, jilid II, Halaman 720.

[8] M. Mashyhur Amin, Dakwah Islam dan Pesan Moral, (Jakarta: 1997, Al amin Press), halm. 8

[9] Didin Hafiduddin, M. Sc, Dakwah Aktual, (Jakarta: 1998, Gema Insani Press), halm. 76

[10] Siti Muriah, Metodologi Dakwah Kontemporer, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2000), halm. 55

[11] Ibid.,

8 Komentar

  1. terima kasih ya

  2. lapor copy ya kk….:)

  3. Kak aku Asri, aku ada tugas makalah Al – qur’an. Aku izi copas artikel kakak yah. untuk referensi makalah aku juga kak :-) kakak bisa melihat saya di facebook Asri Wulandari atau di twitter @Asri_WD

  4. izin copas ya buat referensi
    ^^

  5. Reblogged this on Bee's Blog and commented:
    I love this one

  6. Assalamu’alaikum Mba. saya Nina Reza, Mahasiswa Ilmu komunikasi Universitas Islam Indonesia. kebetulan artikel mba bs saya jadikan referensi. saya ijin ya mba. kalo bs sy dberi judul makalah mba ini. terimakasih. mba bisa hubungi saya di twitter @NinaZahrani

    • ok nina, judulnya Metode Dakwah berdasarkan Surat An-Nahl:125.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ping pung

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: