lorong29

cover korea jiwa indonesia, all about my life, all about my favorite

Film Sebagai Media Dakwah


All Friends Naruto

Film Naruto

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah

Dewasa ini seringkali kita melihat atau bahkan terlibat dalam suatu kegiatan dakwah islamiyyah di masyarakat sekitar kita. Namun seringkali kita mengabaikan efektifitas dari kegiatan dakwah tersebut. Berdakwah artinya mempropogandakan suatu keyakinan, menyerukan suatu pandangan hidup, iman dan agama[1]. Bahkan sudah menjadi rahasia umum bahwa kegiatan dakwah yang ada terkesan monoton. Monoton disini berati adanya suatu metode dari dakwah tersebut dinilai kurang memberikan efek yang besar bagi para mad’u dalam menerima informasi. Maka sudah sepatutnya para pelaku dakwah beralih dari formula dakwah yang sudah lazim dilakukan. Seperti halnya dakwah bil Lisan. Kegiatan dakwah ini yang notabene marak dimasyarakat bukan berarti bernilai tidak baik. Namun jika kita lihat dari efektifitas penerapan informasi dari kegiatan dakwah tersebut sangatlah kurang memadai jika kita lihat maraknya informasi sekuler yang menerpa kita sehari-hari. Oleh karena itu menjadi keharusan adanya strategi baru dalam pelaksanaan suatu kegiatan dakwah.

Fenomena tersebut adalah indikasi dari kurang efektifnya kegiatan dakwah yang akhir-akhir ini dilakukan para pelaku dakwah. Kita lihat sejarah dakwah islam di negeri ini. Sejarah mencatat, media dakwah melalui seni dan budaya pada masa itu adalah dakwah yang efektif dan terasa signifikan dalam hal penerapan ideologi Islam pada masyarakat pada zamannya. Seperti halnya media film. Film adalah media yang begitu pas dalam memberikan influence bagi masyarakat umum. Penonton film seringkali terpengaruh dan cenderung mengikuti seperti halnya peran yang ada pada film tersebut. Maka ini dapat menjadi peluang yang baik bagi pelaku dakwah ketika efek dari film tersebut bisa diisi dengan konten-konten keislaman.

Film bisa menjadi suatu tontonan yang menghibur, dan dengan sedikit kreatifitas kita bisa memasukan pesan-pesan dakwah pada tontonan tersebut seperti hanya para pendahulu kita. Menurut Onong Uchyana Efendi, film merupakan medium komunikasi yang ampuh, bukan saja untuk hiburan, tetapi juga untuk penerangan dan pendidikan. Bahkan, Jakob Sumardjo, dari pusat pendidikan film dan televisi, menyatakan bahwa film berperan sebagai pengalaman dan nilai. Senada dengan pendapat diatas, Khaidar Bagir seorang CEO Mizan, menyatakan bahwa Kegiatan pengtransformasian ajaran Islam akan dinilai sia-sia apabila para pelaku dakwah tidak memanfaatkan media sebagai suatu kekuatan dalam pelaksanaan dakwah kontemporer. Oleh karena itu, film bisa menjadi suatu solusi ketika masyarakat mengalami suatu stagnansi dalam penerimaan informasi keislaman.

I.2 Rumusan Masalah

            Berdasarkan pada latar belakang di atas, maka dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah Peluang Dakwah Dalam Industri Film di Indonesia?
  2. Bagaimanakah Perkembangan Dakwah Melalui Film?
  3. Bagaimana Peran Film Sebagai Media Dakwah?
  4. Bagaimana Kelebihan dan Kekurangan Film Sebagai Media Dakwah?

I.3 Tujuan Masalah

  1. Untuk mengetahui Peluang Dakwah Dalam Industri Film di Indonesia
  2. Untuk mengetahui Perkembangan Dakwah Melalui Film
  3. Untuk mengetahui Peran Film Sebagai Media Dakwah
  4. Untuk mengetahui Kelebihan dan Kekurangan Film Sebagai Media Dakwah

I.4 Sistematika Pembahasan

Agar pembaca dapat dengan jelas mengerti urutan-urutan tentang apa yang kami uraikan dalam makalah ini, maka kami menguraikan pembahasan secara sistematis berdasarkan data kualitatif sebagai berikut.

BAB II

PEMBAHASAN

II.1 Peluang Dakwah Dalam Industri Film di Indonesia

Di Indonesia, film pertamakali diperkenalkan pada 5 Desember 1900 di Batavia (Jakarta). Pada masa itu film disebut “Gambar Idoep”. Pertunjukkan film pertama digelar di Tanah Abang. Film adalah sebuah film dokumenter yang menggambarkan perjalanan Ratu dan Raja Belanda di Den Haag. Pertunjukan pertama ini kurang sukses karena harga karcisnya dianggap terlalu mahal. Sehingga pada 1 Januari 1901, harga karcis dikurangi hingga 75% untuk merangsang minat penonton. Film cerita pertama kali dikenal di Indonesia pada tahun 1905 yang diimpor dari Amerika. Film-film impor ini berubah judul ke dalam bahasa Melayu. Film cerita impor ini cukup laku di Indonesia. Jumlah penonton dan bioskop pun meningkat. Daya tarik tontonan baru ini ternyata mengagumk1an. Film lokal pertama kali diproduksi pada tahun 1926. Sebuah film cerita yang masih bisu. Agak terlambat memang. Karena pada tahun tersebut, di belahan dunia yang lain, film-film bersuara sudah mulai diproduksi.

Film cerita lokal pertama yang berjudul Loetoeng Kasaroeng[2] ini diproduksi oleh NV Java Film Company. Film lokal berikutnya adalah Eulis Atjih yang diproduksi oleh perusahaan yang sama. Setelah film kedua ini diproduksi, kemudian muncul perusahaan-perusahaan film lainnya seperti Halimun Film Bandung yang membuat Lily van Java dan Central Java Film Coy (Semarang) yang memproduksi Setangan Berlumur Darah. Industri film lokal sendiri baru bisa membuat film bersuara pada tahun 1931. Film ini diproduksi oleh Tans Film Company bekerjasama dengan Kruegers Film Bedrif di Bandung dengan judul Atma de Vischer. Selama kurun waktu itu (1926-1931) sebanyak 21 judul film (bisu dan bersuara) diproduksi. Jumlah bioskop meningkat dengan pesat. Filmrueve (majalah film pada masa itu) pada tahun 1936 mencatat adanya 227 bioskop.

Untuk lebih mempopulerkan film Indonesia, Djamaludin Malik mendorong adanya Festival Film Indonesia (FFI) I pada tanggal 30 Maret-5 April 1955, setelah sebelumnya pada 30 Agustus 1954 terbentuk PPFI (Persatuan Perusahaan Film Indonesia). Film Jam Malam karya Usmar Ismail tampil sebagai film terbaik dalam festival ini. Film ini sekaligus terpilih mewakili Indonesia dalam Festival Film Asia II di Singapura[3]. Film ini dianggap karya terbaik Usmar Ismail. Sebuah film yang menyampaikan kritik sosial yang sangat tajam mengenai para bekas pejuang setelah kemerdekaan.

Film-film Indonesia selama dua dekade ini (1980-an dan 1990-an) terpuruk sangat dalam. Insan film Indonesia seperti tak bisa berkutik menghadapi arus film impor. Masalah yang dihadapi harus diakui sangatlah kompleks. Mulai dari persoalan dana, SDM, hingga kebijakan pemerintah. Persoalan ini dari tahun ke tahun semakin melebarkan jarak antara film, bioskop dan penonton, tiga komponen yang seharusnya memiliki pemahaman yang sama terhadap sebuah industri film. Dan itu menjadi suatu tantangan pagi para sineas film dakwah. ”bila kehidupan manusia bertambah komplek, waktu berkumpul bertambah sempit maka dakwah lisan merupakan bahagian yang terkecil dalam dakwah, sebaliknya dakwah melalui tulisan, lukisan, perbuatan akan merupakan dakwah yang paling besar dalam komunikasi mutakhir nanti[4]. Seperti halnya tujuan dakwah: Terjadinya perubahan tingkah laku, sikap atau perbuatan yang sesuai dengan pesan-pesan risalah Al-Quran dan Sunnah[5].

Di awal millenium baru ini tampaknya mulai ada gairah baru dalam industri film Indonesia terutama film yang mengusung tema Dakwah. Seperti halnya film Kiamat Sudah Dekat, Kun Fa Yakun, Perempuan Berkalung Sorban, Ketika Cinta Bertasbih, Hingga film Ayat-ayat Cinta yang begitu fenomenal akhir-akhir ini semakin memberikan peluang bagi para sineas dakwah. Kenyataan ini cukup memberi harapan bagi para sineas-sineas dakwah, karena tidak hanya film yang ber-genre-kan horor, percintaan remaja atau komedi berbalut seksualitas yang bisa diterima masyarakat umum namun film yang bernuansakan islam pun laku untuk diedar. Maka hal tersebut bisa menjadi suatu modal besar bagi para sineas dakwah dalam mengtransformasikan nilai keislaman pada media ini.

Unsur-Unsur Dari Film

1. Director (Sutradara), Bertugas memimpin dan mengarahkan keseluruhan proses pembuatan film.

2. Pembuat Ide cerita, Pencetus atau pemilik ide cerita pada naskah film yang diproduksi.

3. Script Writer, Bertugas menterjemahkan ide cerita ke dalam bahasa visual gambar atau skenario.

4. Kameramen, Bertugas mengambil gambar atau mengoperasikan kamera saat shooting.

5. lighting, Bertugas mengatur pencahayan dalam produksi film.

6. Tata musik (music director), Bertugas membuat atau memilih musik yang sesuai dengan nuansa cerita dalam produksi film.

7. Tata kostum, (costume designer), Bertugas membuat atau memilih dan menyediakan kostum atau pakaian yang sesuai dengan nuansa cerita dalam produksi film.

8. Make up Artist, Bertugas mengatur make up yang sesuai dengan nuansa cerita dalam produksi film

9. Sound effect (sound recorder), Bertugas membuat atau memilih atau merekam suara dan efek suara yang sesuai dengan nuansa cerita dalam produksi film.

10. Tata artistik (artistic director), Bertugas membuat dan mengatur latar dan setting yang sesuai dengan nuansa cerita dalam produksi film.

11. Editor, Bertugas melakukan editing pada hasil pengambilan gambar dalam produksi film.

12. Kliper, Bertugas memberi tanda pengambilan shot dalam produksi film.

13. Pencatat adegan, Bertugas mencatat adegan atau shot yang diambil serta kostum yang dipakai dalam produksi film.

14. Casting, Bertugas mencari dan memilih pemain yang sesuai ide cerita dalam produksi film.

II.2 Perkembangan Dakwah Melalui Film

Sejak setahun terakhir ini, masyarakat muslim Indonesia mulai membincangkan kembali tentang munculnya beberapa film yang bernuansa dakwah atau paling tidak film tersebut bergenre islami. Kemunculan film- film yang berjudul; Ayat- Ayat Cinta, Kun Fyakun, Mengaku Rasul dan yang terakhir Wanita Berkalung Sorban, sepertinya telah mendapat klaim sebutan dari kalangan masyarakat islam Indonesia sebagai film Islami.

Fenomena menarik dalam konteks pemanfaatan media film sebagai saluran dakwah dengan metode[6] tertentu, mulai terjadi di Indonesia yang memiliki populasi masyarakat muslim terbesar didunia sudah seharusnya mampu memanfaatkan secara efektif teknologi audio-visual tersebut. Indonesia, yang merupakan negara berpenduduk muslim mayoritas dinyatakan sebagai negara terbesar kedua film prononya, ini menjadi salah satu faktor penyebab maaraknya pemerkosaan yang diawali dengan menonton film porno. Dalam kasus ini penulis hendak mengatakan, bahwa ini menjadi kelalaian umat islam Indonesia dalam memanfaatkan sekaligus mengarahkan film sebagai media dakwah.

Perkembangan tekhnologi membawa perubahan besar terhadap peradaban manusia. Dengan semakin majunya tekhnologi informasi membuat bumi menjadi sangat sempit. Hasil kemajuan dibidang ini berdampak pada derasnya arus informasi yang tak mengenal batas ruang dan waktu. Derasnya arus informasi ini didukung oleh berbagai media sebagai corong penyampai pesan baik itu komunikasi yang bersifat massa maupun pribadi. Film merupakan media komunikasi yang efektif dalam mengkomunikasikan nilai-nilai kepada masyarakat sehingga prilaku penonton dapat berubah mengikuti apa yang disaksikannya dalam berbagai film yang disaksikannya. Melihat hal demikian film sangat memungkinkan sekali media film digunakan sebagai sarana penyampai syiar Islam kepada masyarakat luas.

Dalam konteks ilmu komunikasi, terdapat 12 prinsip-prinsip komunikasi, salah satu diantaranya adalah; Prinsip komunikasi dimensi isi dan dimensi hubungan. Maksudnya adalah bahwa dimensi isi disandi secara verbal, sementara dimensi hubugan disandi secara nonverbal. Dalam penjelasan yang lain, dimensi isi menunjukan muatan (isi) komunikasi, yaitu apa yang dikatakan/sampaikan. Sedangkan dimensi hubungan menujnjukan bagaimana cara mengatakan dan menyampaikanya yang juga mengisyaratkan bagaiman hubungan para peserta komunikasi itu, dan bagaimana seharusnya pesan itu ditafsirkan.

Film sebagai salah satu media komunikasi, tentunya memiliki pesan yang akan disampaikan. Maka isi pesan dalam film merupakan dimensi isi, sedangkan Film sebagai alat (media) berposisi sebagai dimensi hubungan. Dalam hal ini, pengaruh suatu pesan akan berbeda bila disajikan dengan media yan berbeda. Misalnya, suatu cerita yang penuh dengan kekerasan dan seksualisme yang disajikan oleh media audio-visual (Film dan Televisi) boleh jadi menimbulkan pengaruh yang jauh lebih hebat, misalnya dalam bentuk peniruan oleh anak-anak atau remaja yang disebabkan oleh tontonan sebuah film, bila dibanding dengan penyajian cerita yang sama lewat majalah dan radio, karena film memiliki sifat audio visual-visual,sedangkan majalah mempunyai sifat visual saja dan radio mempunyai sifat audio saja. Berkenaan dengan ini, tidaklah mengejutkan bila Marshall Mcluhan mengatakan The medium is the message.

Film sebagai salah satu produk kemajuan teknologi mempunyai pengaruh yang besar terhadap arus komunikasi yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Bila dilihat lebih jauh film bukan hanya sekedar tontonan atau hiburan belaka, melainkan sebagai suatu media komunikasi yang efektif. Melalui film kita dapat mengekspresikan seni dan kreativitas sekaligus mengkomunikasikan nilai-nilai ataupun kebudayaan dari berbagai kondisi masyarakat. Dengan demikian melalui film bisa disampaikan identitas suatu bangsa. Layaknya sebuah pemandangan, Film tidak hanya sebagai tontonan belaka. Akan tetapi dalam film terkandung pesona dan kehebatan: melalui cerita-cerita yang sangat lokal, para pembuat film yang tahu kehidupan, mengerti masyarakatnya, bisa menyampaikan pesan-pesan universal untuk seluruh umat manusia. Film tidak mengenal batasan geografis, yang memang dibuat orang bukan untuk kepentingan politik. Bahasa film cuma satu, bahasa umat manusia.

Padahal jika diamati, dewasa ini kalangan masyarakat penonton Indonesia semakin kritis dalam memilih jenis tontonan film. Mereka tidak hanya mencari tontonan yang menghibur tetapi juga pengalaman batin. Akan tetapi, sayangnya kenyataan ini belum dapat disadari oleh para produser film kita. Para pengusaha film kita masih dalam tahap euforia kebangkitan kembali perfilman nasional pasca ”mati suri” dua belas tahun yang lalu. Anggapan bahwa eksploitasi tubuh, sadisme, hedonisme serta tontonan-tontonan budaya pop lainya masih menjadi kebutuhan mayoritas masyarakat kita, tercermin dari produk-produk film nasional yang beredar saat ini. Inilah yang menyebabkan tema film-film kita tidak pernah beranjak dari lingkaraan klise. Ini juga yang menjadi indikasi, bahwa film-film di Indonesia belum mampu bertutur dan bercerita yang sesuai dengan karakter masyarakat dengan ke-Indonesiaanya

Film-film yang baik, tentunya akan memberikan pengalaman batin dan pengalaman audio visual baru mengenai sebuah masyarakat, suatu kebudayaan, yang unik dan sering tak terduga bagi orang yang menontonya. Film merupakan media komunikasi yang efektif dalam mengkomunikasikan nilai-nilai kepada masyarakat sehingga prilaku penonton dapat berubah mengikuti apa yang disaksikannya dalam berbagai film yang disaksikannya. Melihat hal demikian film sangat memungkinkan sekali digunakan ssebagai sarana penyampai syiar Islam kepada masyarakat luas. Dalam penyampaian pesan melalui Film terjadi proses yang berdampak signifikan bagi para penontonnya. Ketika menonton sebuah film, terjadi identifikasi psikologis dari diri penonton terhadap apa yang disaksikannya. Penonton memahami dan merasakan seperti apa yang dialami salah satu pemeran. Pesan-pesan yang termuat dalam sejumlah adegan film akan membekas dalam jiwa penonton, sehingga pada akhirnya pesan-pesan itu membentuk karakter penonton. Seperti apa yang diungkapkan Aep Kusnawan (2004) yang mengutip Onong Uchayana E (2000), film merupakan medium komunikasi yang ampuh, bukan saja untuk hiburan, tetapi juga untuk penerangan dan pendidikan. Dengan demikian lebih jauh film diharapkan dapat memperbaiki kondisi masyarakat melalui pesan-pesan yang disampaikannya.

Selanjutnya film sebagai media komunikasi, film juga dapat berfungsi sebagai media dakwah yang bertujuan mengajak kepada kebenaran. Dengan berbagai kelebihan yang terdapat dalam film menjadikan pesan-pesan yang ingin disampaikan melalui media ini dapat menyentuh penonton tanpa mereka merasa digurui. Kelebihan yang terdapat dalam film sebagai media komunikasi massa diantaranya adalah film merupakan bayangan kenyataan hidup sehari-hari, film dapat lebih tajam memainkan sisi emosi pemirsa dan menurut Soelarko (1978) efek terbesar film adalah peniruan yang diakibatkan oleh anggapan bahwa apa yang dilihatnya wajar dan pantas untuk dilakukan oleh setiap orang. Maka tidak heran bila penonton tanpa disadari berprilaku mirip dengan peran dalam suatu film-film yang pernah ditontonya.

Kondisi masayarakat Indonesia yang multikultural dan kepercayaan tentu menjadikan setiap seni dan budaya memiliki nilai-nilai luhur yang harus dilestarikan “kesakralanya”, dalam konteks ini tidak semua tema film dapat diproduksi di negeri ini, dan juga tidak semua tema film yang diproduksi oleh negara luar terutama barat, dapat diapresiasi dan ditonton oleh masyarakat Indonesia mengingat bangsa Indonesia memiliki tradisi kearifan lokal yang santun dan harus dipertahankan agar tidak terkontaminasi oleh budaya dan trend barat yang masuk melaui film, sebagai transmisi pesannya. Kebangkitan kembali film Indonesia tentunya memberikan harapan akan hadirnya kembali hiburan alternatif berupa tontonan sinematography yang diproduksi sendiri oleh sineas dalam negeri. Setelah sebelumnya film-film yang banyak diputar baik di bioskop atupun televisi Indonesia didominasi oleh produksi-produksi yang berasal dari luar negeri, seperti; Amerika Serikat (Hollywood), India (Bollywood) China dan Hongkong (mandarin) mangaka Jepang dan drama Korea. Kondisi ini tentu saja sedikit banyak telah membawa dampak negatif terhadap budaya masyarakat Indonesia sekarang. Karena kebanyakan film-film tersebut dianggap tidak sesuai dengan karakter dan budaya masyarakat di Indonesia.

II.3 Peran Film Sebagai Media Dakwah

Televisi sebagai salah satu produk ilmu pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK) dalam bidang komunikasi telah hadir ditengah-tengah kehidupan umat manusia. Sebagai sarana informasi televisi dapat dijadikan media dakwah melalui acara-acara yang disajikan lewat tayangan-tayangan hiburan, talk shaw, dan film. Dalam tulisan ini akan diketengahkan tentang peran film sebagai sarana untuk menyiarkan dakwah islamiyah. Dakwah mengandung pengertian sebagai suatu kegiatan ajakan baik dalam bentuk lisan, tulisan, tingkah laku dan sebagainya yang dilakukan secara sadar dan berencana dalam usaha mempengaruhi orang lain baik secara individual maupun secara kelompok agar supaya timbul dalam dirinya suatu pengertian, kesadaran, sikap penghayatan serta pengalaman terhadap ajaran agama sebagai massage yang disampaikan kepadanya dengan tanpa adanya unsur-unsur paksaan. Dengan demikian maka esensi dakwah adalah terletak pada ajakan, dorongan (motivasi), rangsangan serta bimbingan terhadap orang lain untuk menerima ajaran agama dengan penuh kesadaran demi untuk keuntungan pribadinya sendiri bukan untuk kepentingan juru dakwah atau juru penerang.

Film itu seperti diketahui merupakan salah satu acara yang ditayangkan televisi. Terdapat beberapa pesan moral yang dapat diangkat atau diambil maknanya dari tayangan-tayangan film yang disesuaikan dengan alur atau jalan cerita dari isi film tersebut. Sebab film memberikan peluang untuk terjadinya peniruan apakah itu positif ataupun negatif. Dikarenakan dampak yang ditimbulkan lewat acara-acara film begitu besar maka sungguh pas dan tepat jika proses dakwah pun dilakukan melalui film-film yang bertemakan dakwah. Salah satu film yang memberikan pesan dakwah adalah Kiamat Sudah Dekat, dalam film itu menceriatakan tentang pemuda modern yang funky dan gaul dan jauh dari agama. Ia mencintai seorang gadis muslimah anak Pak Haji. Pada akhir cerita ini pemuda tersebut akhirnya dapat menikahi gadis muslimah tersebut dengan persyaratan-persyaratan yang ditentukan oleh orang tuanya yang pada akhirnya membuat pemuda itu menjadi sadar dan taat beribadah.

Kiamat Sudah Dekat” bukan satu-satunya film televisi yang mengandung unsur dakwah, sebagaimana film-film yang lainnya. Bahkan bila kita amati masih banyak lagi film-filam yang dikonsumsi oleh pemirsa (mad’u) seperti film Rahasia Illahi, Demi Masa, Insyaf, Taubat, dan masih banyak lagi film yang lain yang diwarnai oleh pesan-pesan dakwah islamiyah. Salah satu fungsi film yang ditayangkan oleh televisi yaitu sebagai alat komunikasi. Sebab komunikasi adalah salah satu faktor yang penting bagi perkembangan hidup manusia sebagai makhluk sosial. Tanpa mengadakan komunikasi individu tidak mungkin dapat berkembang dengan normal dalam lingkungan sosialnya. Oleh karena tak ada manusia individu yang berkembang tanpa komunikasi dengan manusia individu yang lainnya.

Sejak manusia dilahirkan, oleh tuhan diberinya kemampuan-kemampuan dasar untuk berkomunikasi denngan orang lain atau dengan situasi lingkungan dengan menggunakan berbagai macam media yang salah satunya melalui acara-acara yang ditayangkan oleh televisi. Dengan melihat permasalahan di atas maka bisa dikatakan bahwa komunikasi dakwah lewat film bisa mempengaruhi kondisi psikologis pemirsa yang menyaksikannya sehingga dapat menerima ajaran-ajaran Islam. Hal ini sesuai dengan sasaran dakwah yang menjadi tujuan dakwah yaitu :” Amar ma’ruf nahi Munkar“.

II.4 Kelebihan dan Kekurangan Film Sebagai Media Dakwah

@Kelebihan Film Sebagai Media Dakwah

Kelebihan Film sebagai media dakwah ini antara lain:

a)      Secara Psikologis, penyuguhan secara hidup dan nampak yang dapat berlanjut dengan animation mempunyai kecenderungan umum yang unik dalam keunggulan daya efektifitasnya terhadap penonton. Banyak hal-hal yang abstrak dan samar-samar serta sulit diterangkan, dapat disuguhkan pada khalayak secara lebih baik dan efisien oleh media film ini.

b)      Bahwa media film yang menyuguhkan pesan yang hidup akanmengurangi keraguan apa yang disuguhkan, lebih mudah diingat dan mengurangi kelupaan.

c)      Khusus bagi khalayak anak-anak dan sementara kalangan orang dewasa cenderung menerima secara bulat, tanpa lebih banyak mengajukan pertanyaan terhadap seluruh kenyataan situasi yang disuguhkan film[7].

Film juga dapat mempengaruhi emosi penonton ini memang sangat mengesankan, seperti film tentang Risalah Muhammad “THE MESSAGE”, film Sejarah Wali Songo, dan sebagainya yang pernah ditayangkan di tengah-tengah masyarakat dapat seolah-olah menghidupkan kembali kenangan sejarah Islam yang ada. Di samping itu dalam perkembangan sekarang pengajaran shalat, menasik haji, dan ibadah-ibadah praktis lainnya dapat dengan mudah diajarkan melalui video dan sebagainya. Akan tetapi yang perlu diingat bahwa dakwah meelalui media ini memerlukan biaya yang cukup mahal[8]

@Kekurangan Film Sebagai Media Dakwah

Pakar komunikasi Rogers & Shoemaker menyatakan bahwa komunikasi adalah proses pesan yg disampaikan dari sumber kepada penerima. Komunikasi yg menyebar melalui media massa akan memiliki dampak vertikal (mengalami taraf internalisasi/penghayatan) apalagi jika para tokoh (opinion-leaders) ikut menebarkannya. Sementara pakar komunikasi lain, Lazarfield menyatakan bahwa jalannya pesan melalui media massa akan sangat mempengaruhi masyarakat penerimanya. Peran merusak dari media komunikasi modern, khususnya TV terhadap sebuah generasi menurut penulis dapat dilihat dari dua aspek sebagai berikut:

*Aspek kehadirannya : Terjadinya perubahan penjadwalan kegiatan sehari2 dalam keluarga muslim dan muslimah. Sebagai contoh adalah, waktu selepas maghrib yang biasanya digunakan anak2 muslim/ah untuk mengaji dan belajar agama berubah dengan menonton acara2 yang kebanyakan tidak bermanfaat atau bahkan merusak. Sementara bagi para remaja dan orangtua, selepas bekerja atau sekolah dibandingkan datang ke pengajian dan majlis2 taklim atau membaca buku, kebanyakan lebih senang menghabiskan waktunya dengan menonton TV. Sebenarnya TV dapat menjadi sarana dakwah yang luarbiasa, sesuai dengan teori komunikasi yang menyatakan bahwa media audio-visual memiliki pengaruh yang tertinggi dalam membentuk kepribadian seseorang maupun masyarakat, asal dikemas dan dirancang agar sesuai dengan nilai2 yg Islami.

* Aspek Isinya : Berbicara mengenai isi yang ditampilkan oleh media massa diantaranya adalah mengenai penokohan/orang2 yang diidolakan. Media massa yang ada tidak berusaha untuk ikut mendidik bangsa dan masyarakat dengan menokohkan para ulama ataupun ilmuwan serta orang2 yang dapat mendorong bagi terbangunnya bangsa agar dapat mencapai kemajuan (baik IMTAK maupun IPTEK) sebagaimana yang digembar-gemborkan, sebaliknya justru tokoh yang terus-menerus diekspos dan ditampilkan adalah para selebriti yang menjalankan gaya hidup borjuis, menghambur2kan uang (tabdzir) jauh dari memiliki IPTEK apalagi dari nilai2 agama. Hal ini jelas demikian besar dampaknya kepada generasi muda dalam memilih dan menentukan gaya hidup serta cita2nya dan tentunya pada kualitas bangsa dan negara. Produk lain dari GF yang menonjol dalam media TV misalnya, adalah porsi film2 yang Islami yang hampir2 boleh dikatakan tidak ada, 90% film yang diputar adalah bergaya hidup Barat, sisanya adalah film nasional (yang juga meniru Barat), lalu diikuti film2 Mandarin dan film2 India. Hal ini bukan karena tidak adanya film2 yg islami atau kurangnya minat pemirsa thd film2 islami. Tetapi masalahnya memang lebih karena tidak adanya political-will dikalangan pengelola stasiun TV yang ada.

  BAB III

PENUTUP

III.1 Kesimpulan

Perlu diketahui bahwa penjajahan melalui media komunikasi adalah jauh lebih jahat dan berbahaya dari penjajahan fisik. Dari sisi biaya, peperangan fisik membutuhkan biaya yg sangat mahal, sementara peperangan media hanya membutuhkan biaya yg murah dan bahkan dapat dikembalikan (melalui iklan). Dari sisi persenjataan yg digunakan, peperangan fisik menggunakan berbagai senjata canggih yg mahal dan berat, sedangkan peperangan media cukup menggunakan film2, diskusi topik dan iklan. Dari sisi jangkauan, peperangan fisik hanya dibatasi di front2 pertempuran saja, sementara penjajahan media bisa sampai ke setiap rumah jauh di pelosok2 dan di pedalaman. Terakhir dari sisi obyek, dlm peperangan fisik obyek merasakan dan mengadakan perlawanan, sementara melalui peperangan media obyek sama sekali tidak merasa dan bahkan menjadikan penjajahnya sebagai idola. Maka menghadapinya, hanya sebagian kecil orang yg dirahmati ALLAH SWT sajalah yg mampu bersikap mawas, lalu berdisiplin melakukan filterisasi serta terus berjuang membebaskan masyarakat dari makar yg luar-biasa hebatnya ini, Maha Benar ALLAH SWT yg telah berfirman : “……DAN SUNGGUH MEREKA ITU TELAH MEMBUAT MAKAR YG AMAT BESAR, DAN DISISI ALLAH-LAH (BALASAN) MAKAR MEREKA ITU. DAN SESUNGGUHNYA MAKAR MEREKA ITU HAMPIR-HAMPIR DAPAT MELENYAPKAN GUNUNG-GUNUNGPUN (KARENA BESARNYA)…” (QS. Ibrahim, 14:46). Maka ambillah pelajaran wahai orang2 yg berakal.

III.2 Saran

  1. Menampilkan film bertajuk Islam (atau minimal menyajikan setting dan cerita yang memberikan deskripsi Islam) adalah sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Sedikit banyak pemirsa akan menarik image terhadap Islam dari film-film seperti itu. Akan fatal akibatnya jika film berlabel ‘Islami’ tersebut ternyata malah menayangkan hal-hal yang justru bertentangan dengan nilai-nilai Islam itu sendiri. Bisa-bisa orang akan mengira dan menyimpulkan bahwa seperti itulah Islam. Padahal mungkin sebaliknya.
  2. Saya pernah membaca disebuah website bahwa di luar negeri, pembuatan film diawali riset intensif, tidak hanya terhadap pangsa pasar, tapi juga terhadap keabsahan cerita yang akan dibawakan. Hendaknya para penggarap ‘Film Islami’ juga bertindak seperti itu. Kaji secara serius nilai-nilai yang diskenariokan. Diskusikan dengan pakar yang kompeten dari pihak ulama dan/atau cendekiawan muslim. Jangan hanya memanfaatkan label ‘Islam’ untuk mendongkrak rating dan popularitas saja. Meski sebagian mengaku sudah mengikuti prosedur tersebut, namun kenyataannya saat film digelar tetap saja tampak ‘nyeleneh’.
  3. Jangan sampai film-film Islami yang sedianya -langsung maupun tidak- akan berperan sebagai syiar (menyebarkan Islam beserta ajarannya) malah berbalik menjadi alat pembodohan dan sumber fitnah. Mudah-mudahan tidak semua seperti itu. Dan semoga kedepannya media film dapat benar-benar menjadi sarana dakwah Islam secara hanif.
  4. DAFTAR PUSTAKA

Anshary, Isa. 1995.  Mujahid Dakwah. Bandung: CV. Diponegoro

Bisri, Hasan. 1998. Ilmu Dakwah. Diktat. Surabaya: Biro Penerbitan dan Pengembangan Ilmiah

Keraf, Gorys. 1979. Komposisi. Jakarta: Nusa Indah

Mohamad, Goenawan. 1974. Film Indonesia. Jakarta:  Sastra Kita

Muttaqin, E.Z. 1982. Peranan Dakwah Dalam Pembanguna Manusia. Surabaya : Bina Ilmu

Tasai, S. Amran dan Zaenal Arifin. 2009. Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Edisi Revisi 2008. Jakarta: Akarpress

Tasmara, Toto. 1997. Komunikasi Dakwah. Jakarta: Gaya Media Pratama


[1] Isa Anshary, Mujahid Dakwah, (Bandung: CV. Diponegoro, 1995), hal. 17

[2] Departemen Penerangan RI, Festival Film Indonesia 1985-1990 (Jakarta, 1991) hal 5

[3] Goenawan Mohamad, “Film Indonesia: Catatan Tahun 1974”, Seks, Sastra, Kita  (Jakarta, 1981) hal 7

[4] E.Z Muttaqin, Peranan Dakwah Dalam Pembanguna Manusia, (Surabaya : Bina Ilmu, 1982 ), hal. 66

[5] Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), hal. 47

[6] Abu Zahrah, Dakwah Islamiyah, (Bandung : Remaja RosdaKarya, 1994), h. 159-161

[7] Drs. H. Hasan Bisri WD, MA, Ilmu Dakwah, (Surabaya: Biro Penerbitan dan Pengembangan Ilmiah, 1998), hal. 45

[8] Ibid., hal.46

About these ads

1 Komentar

    Trackbacks

    1. FESTIVAL FILM PERDAMAIAN Peserta Hanya Sineas Asing | lazionews.info

    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    ping pung

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    %d bloggers like this: