lorong29

cover korea jiwa indonesia, all about my life, all about my favorite

Berpikir dan Intelegensi

Berpikir dan Intelegensi

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah

PSIKOLOGI

 

Dosen Pembimbing:

Arif Ainur Rofiq, S. Sos., S. Pd., M. Pd.

NIP: 19770808 200710 1 004

 

Disusun oleh:

  1. 1.      Hilwani Sari                            (B54210065)
  2. 2.      Khoridatur Rifliana                 (B34210060)
  3. 3.      Ika Nur Ridiawati                   (B74210070)
  4. 4.      Argen Galih Permadi              (B34210061)
  5. 5.      Abu Yamin Saputra                 (B74210074)

 

JURUSAN MANAJEMEN DAKWAH

FAKULTAS DAKWAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

2011

KATA PENGANTAR

Segala ucap syukur kepada Allah SWT yang telah memberberikan rahmat dan hidayahnya beserta segala kemudahan, sehingga tim penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Berpikir dan Intelegensi” dengan sebaik mungkin dan insya Allah bermanfaat bagi semua pembaca.

Dalam proses penyelesaian makalah ini, tim penulis banyak mendapatkan dorongan serta bimbingan dari berbagai pihak, karenanya pada kesempatan ini tim penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Dalam makalah ini akan di kemukakan penjelasan atau uraian dari bab II mengenai pengertian berpikir, pengertian intelegensi, macam-macamkegiatan berpikir, dan tentang tes intelegensi. Kemudian diakhiri dengan saran dan kritik dari bab III, penutup.

Dengan selesainya makalah sebagai salah satu tugas “Psikologi” ini, tim penulis menyadari bahwa makalah penuh dengan kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan untuk makalah yang lebih baik kedepannya. Dan akhirnya dengn penuh harapan semoga karya kecil ini bermanfaat juga menambah wawasan bagi pembaca. Amin yaa rabbal ‘alamin.

Surabaya, 3 Mei 2011

DARTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………..xi

DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………xii

BAB 1 PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang ……………………………………………………………………..1

BAB 2 PEMBAHASAN

  1. Pengertian Berpikir ……………………………………………………………………………………….3
  2. Macam-macam kegiatan Berpikir …………………………………………………………………..4
  3. Pengertian Intelegesi …………………………………………………………………………………….5
  4. Tes Intelegensi …………………………………………………………………………………………….6

BAB 3 PENUTUP

  1. Kesimpulan ………………………………………………………………………..10

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………….11

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Apakah itu intelegensi? Istilah inteligensi hampir disamakan dengan “kecerdasan”, walaupun sepintas lalu kelihatan jelas, rupanya tidak mudah dirumuskan, karena tidak semua orang menyatakan hal yang sama untuk istilah tersebut.

Muncul berbagai permasalahan mengenai pendefinisian istilah intelegensi tersebut. Hampir semua orang memiliki pemikiran mengenai apa yang diartikan sebagai intelegensi atau kecerdasan; misalnya “kecerdasan”, “kemengertian”, “kemampuan untuk berpikir”, “kemampuan untuk menguasai”, “kecemerlangan sejak lahir”, dan sebagainya. Namun, berbagai definisi tersebut belum benar-benar memungkinkan kita untuk menentukan apakah, misalnya, suatu perilaku tertentu tergolong perilaku pandai atau tidak pandai.

Kesulitan timbul karena kita secara salah telah menganggap bahwa kecerdasan atau intelegensi adalah suatu “benda”. Misalnya, kita menyetujui pendapat orang yang mengatakan “dia pandai karena memiliki IQ yang tinggi” atau “ dia berhasil memasuki perguruan tinggi karena pandai”, di sini dianggap bahwa masing-masing pernyataan tersebut memiliki kuantitas sesuatu yang dinamakan “intelegensi”[1].

Kita semua berpikir, tetapi dengan cara berbeda-beda. Sebagian anak, umpamanya, tumbuh dengan kemahiran “alami” dalam bidang angka-angka, namun sebagian anak lainnya mempunyai kemampuan “intuitif” dan ada juga anak-anak yang “bagus dalam kata-kata”. Kegiatan berpikir juga dirangsang oleh kekaguman dan keheranan dengan apa yang terjadi atau dialami. Kekaguman dan keheranan tersebut menimbulkan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab. Dengan demikian kegiatan berpikir manusia selalu tersituasikan dalam kondisi subjek yang bersangkutan[2].

Berpikir juga berarti berjerih payah secara mental untuk memahami sesuatu yang dialami atau mencari jalan keluar dari persoalan yang sedang dihadapi. Dalam berpikir juga termuat kegiatan meragukan dan memastikan, merancang, menghitung, mengukur, mengevaluasi.

Biasanya, kegiatan berpikir dimulai ketika muncul keraguan dan pertanyaan untuk dijawab atau berhadapan dengan persoalan atau masalah yang memerlukan pemecahan. Berpikir adalah sesuatu kegiatan mental yang melibatkan kerja otak. Akan tetapi, pikiran manusia, walaupun tidak bisa dipisahkan dari aktivitas kerja otak, lebih dari sekedar kerja organ bagian tubuh yang disebut otak. Kegiatan berpikir juga melibatkan perasaan dan kehendak manusia.

Untuk itulah tim penulis akan mencoba mempelajari, meringkas, serta menjelaskan mengenai berpikir dan intelegensi ini. Karena sama-sama dari pikiran (otak), apakah akan sama antara berpikir dengan intelegensi?. Lebih jelasnya mari baca makalah ini.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Berpikir

Pikiran adalah gagasan dan proses mental. Berpikir memungkinkan seseorang untuk merepresentasikan dunia sebagai model dan memberikan perlakuan terhadapnya secara efektif sesuai dengan tujuan, rencana, dan keinginan. Kata yang merujuk pada konsep dan proses yang sama diantaranya kognisi, pemahaman, kesadaran, gagasan, dan imajinasi. Berpikir melibatkan manipulasi otak terhadap informasi, seperti saat kita membentuk konsep, terlibat dalam pemecahan masalah, melakukan penalaran, dan membuat keputusan. Berpikir adalah fungsi kognitif tingkat tinggi dan analisis proses berpikir menjadi bagian dari psikologi kognitif.

Proses Dasar => Mekanisme dasar dari sel otak manusia merefleksikan proses pencocokan pola atau pengenalan pola. Saat seseorang melakukan refleksi, situasi baru dan pengalaman baru dinilai berdasarkan apa yang diingat. Untuk membuat penilaian ini, pikiran mempertahankan pengalaman saat ini dan mengurutkan pengalaman masa lalu yang relevan. Hal tersebut dilakukan dengan mempertahankan agar pengalaman kini dan masa lalu sebagai pengalaman yang terpisah. Pikiran dapat mencampur, mencocokkan, menggabungkan, menukar, dan mengurutkan konsep-konsep, persepsi, dan pengalaman. Proses ini disebut penalaran. Logika adalah ilmu tentang penalaran. Kesadaran akan proses penalaran ini adalah jalan masuk kedalam kesadaran.

Berpikir itu, seperti kata ahli pikir, tampaknya mudah saja; sejak kecil semua orang bisa melakukannya. Namun apabila diselidiki lebih lanjut, dan terutama bila dipraktikkan, ternyata mengandung banyak kesulitan. Orang dengan mudah bisa tersesat. Perasaan dan prasangka dapat memengaruhi jalan pikiran. Semboyan-semboyan serta “pendapat umum” dapat menutup mata orang terhadap kenyataan, dan dalam perdebatan, terutama tentang hal-hal yang sulit dan berbelit-belit, sering sukar untuk menentukan letak kebenaran.

Guna menghindari kesesatan dan kesalahan dalam upaya mencapai kebenaran, disusunlah logika, yaitu sebagai pegangan buat pikiran kita dalam perjalanannya mencari insight mengenai seluruh kenyataan. Pada hakikatnya, berpikir merupakan ciri utama bagi manusia untuk membedakan antara manusia dan makhluk lain. Dengan dasar berpikir ini, manusia dapat mengubah keadaan alam sejauh akal dapat memikirkannya. Berpikir disebuut juga sebagai proses bekerjanya akal; manusia dapat berpikir karena manusia berakal. Akal merupakan intinya, sebagai sifat hakikat, sedangkan makhluk sebagai genus yang merupakan dhat, sehingga manusia dapat dijelaskan sebagai makhluk yang berakal. Akal merupakan salah satu unsur kejiwaan manusia untk mencapai kebenaran, di samping rasa untuk mencapai keindahan dan kehendak untuk mencapai kebaikan. Dengan akal inilah, manusia dapat berpikir untuk mencari kebenaran hakiki.

  1. Macam-macam Kegiatan Berpikir

Macam-macam kegiatn berpikir dapat kita golongkan sebagai berikut[3]:

1)      Berpikir asosiatif, yaitu proses berpikir di mana suatu ide mrangsang timbulnya ide lain. Jalan pikiran dalam proses berpikir asosiatif tidak ditentukan atau diarahkan sebelumnya, jadi ide-ide timbul secara bebas. Adapun jenis-jenis berpikir asosiatif adalah:

  1. Asosiasi Bebas: suatu ide akan menimbulkan ide mengenai hal lain, tanpa ada batasnya. Misalnya, ide tentang makanandapat merangsang timbulnya ide tentang restoran dapur, nasi, atau anak yang belum sempat diberi makanan atau hal lainnya.
  2. Asosiasi terkontrol: suatu ide akan menimbulkan ide mengenai hal lain dalam batas-batas tertentu. Misalnya, ide tentang membeli mobil, akan merangsang ide-ide lain entang harganya, pajaknya, pemeliharaannya, merknya, atau modelnya, tetapi tidak merangsang ide tentang hal-hal lain di luar itu seperti peraturan lalu lintas, polisi lalu lintas, mrtua sering meminjam barang-barang, piutang yang belum ditagih, dan sebagainya.
  3. Melamun: yaitu menghayal bebas, sebebas-bebasnya tanpa batas, juga mengenai hal-hal yang tidak realistis.
  4. Mimpi: ide-ide tentang berbagai hal, yang timbul secara tidak disadari pada waktu tidur. Mimpi ini kadang-kadang terlupakan pada waktu bangun, tetapi kadang-kadang masih dapat diingat.
  5. Berpikir artistik: yaitu proses berpikir yang sangat subjektif. Jalan pikiran sangat dipengaruhi oleh pendapat dan pandangan diri pribadi tanpa menghiraukan keadaan sekitar. Ini sering dilakukan oleh para seniman dalam mencipta karya-karya seninya.

2)      Berpikir terarah, yaitu proses berpiir yang sudah ditentukan sebelumnya dan di arahkan pada sesuatu, biasanya di arahkan pada pemecahannya persoalan. Dua macam berpikir terarah yaitu:

  1. Berpikir kritis, yaitu membuat keputusan atau pemeliharaan terhadap suatu keadaan.
  2. Berpikir kreatif, yaitu berpikir untuk menentukan hubungan-hubungan baru antara berbagai hal, menemukan pemecahan baru dari suatu soal, menemukan sistem baru, menemukan bentuk artistik baru, dan sebagainya.
  1. Pengertian Intelegensi

Intelegensi merupakan suatu terminologi yang agak sulit didefinisikan secara tepat, oleh karena itu dibawah ini akan diberikan ilustrasi agar dapat diperoleh gambaran secara sinngkat mengenai apa yang dimaksud dengan intelegensi tersebut. Misalnya saja bila kita melihat sekelompok anak-anak SMA yang sedang bercanda, kemudian kita berfikir dan mulai mengelompokkan mereka (anak-anak SMA tersebut) berdasarkan peranan yang mereka mainkan (misalnya saja peran “badut”, peran “pendengar yang baik”, maupun peran ”penengah”) maka tindakan yang kita lakukan dapat dikatakan sebagai suatu perbuatan yang berintelegensi.

       Dari keadaan di atas dapat disimpulkan secara singkat bahwa perbuatan yang berintelegensi merupakan suatu perbuatan ataupun tindakan yang menuntut kemampuan lebih dari sekedar kemampuan untuk melakukan suatu persepsi biasa. Untuk memperjelas pengertian intelegensi, definisi di bawah ini tampaknya akan dapat memperluas pemahaman kita mengenai intelegensi.

        “intelegensi merupakan suatu perbuatan yang disertai dengan perbuatan dan pengertian” (K.Bunler). “intelegensi adalah kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah, serata mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif” (David Waeschler).

       Kemampuan yang dimaksudkan oleh David Wechler diatas adalah kemampuan untuk mengolah hal-hal yang kita amati secara lebih mendalam. Kemampuan itu sendiri dapat dikelompokkan menjadi dua besaran utama, yaitu:

  1. Kemampuan khusus merupakan suatu kemampuan dalam bidang tertentu, misalnya saja dalam bidang elektronika, bahasa, ilmu pasti, dan sebagainya, termasuk didalamnya adalah kemampuan untuk menganalisa, membuat sintesa, mengorganisasikan fakta, memberikan altematif pemecahan masalah dalam bidang tersebut, dan lain sebagainya.
  2. Kemampuan umum merupakan kemampuan yang mendasari kemampuan khusus, tetapi ia bukan merupakan kumpulan, gabungan ataupun penjumlahan dari kemampuan khusus belaka. Tetapi kemampuan umum mempunyai kualitas tersendiri, misalnya dua orang saja yang mempunyai kemampuan umum yang sama dapat menjadi kedua orang yang sukses dlam bidang yang berbeda (misalnya yang seorang menjadi ahli sejarah, sedangkan yang lainya menjadi pengusaha yang berhasil).
  1. Tes Intelegensi

      Untuk memperjelas pengertian kemampuan tersebut dapat dibandingkan pula dengan pemahaman yang dapat diperoleh dari tes-tes dalam pesikologi, dimana salah satu kelompok besarnya adalah tes kemampuan. Tes kemampuan adalah suatu tes yang dirancang untuk mengukur kapasitas atau potensi seseorang dan bukanya apa yang sudah dicapai (actual achievement), yang pada intinya terdiri dari dua bagian, yaitu:

Tes intilegensia (Tes of intelegence) yang biasanya digunakan untuk mengukur keseluruhan kapasitas dan kemampuan memecahkan masalah (problem solving). Dari tes ini yang didapat adalahgambaran umum dari intelegensia seseorang.

Tes ketangksan (Aptitude Tes) yang biasanya digunakan untuk mengukur kemampuan belajar yang membutuhkan keterampilan-keterampilan tertentu dalam situasi yang spesifik, misalnya tes ketangkasan bagi mereka yang ingin menjadi pilot[4].

Dari penjelasan diatas diharapkan dapat lebih tergambarkan tentang intelegensia dan kemampuan, meskipun gambaran tersebut tentunya belum merupakan gambaran utuh mengenai intelegensia.

Adapun tes inteligensi yang standar antara lain, adalah:

  1. 1.      Tes Binet-Simon: Inilah adalah  tes intelegensi yang pertama kali diciptakan oleh Alfred Binet Simon tahun 1908 di Perancis. Tes ini mulanya sangat sederhana dan hanya untuk anak-anak saja. Akhirnya mendapat sambutan baik dari para ahli, sehingga banyak yang menyempurnakannya. Para ahli yang merevesi tes Binet-Simon ialah:
  • Kuhlaman tahun 1912 dan 1922
  • Lewis Termasn dari Standford university tahu 1916
  • Mordan tahun 1932
  • David Meril tahun 1937

Dengan menggunakan tes intelegensi, dapat ditentukan tingkat kecerdasan atau inteligensi quotient (IQ) seseorang. Unutk mencari IQ rumusnya adalah:

Keterangan :

MA (mental Age atau Umur Psikis), yaitu berapa tahun umur yang normal dapat setingkat dengan kecerdasa anak yang bersangkutan. Misalnya si Ali yang berumur 5 tahun dapat menjawab tes sebanyak 20 soal dengan benar. Sedangkan anak normal yang dapat menjawabnya adalah berumur 6 thun. Jadi, berarti umur psikis Ali adalah sama dengan 6 tahun.

CA (Chronological Age atau Umur Kalender), yaitu umur anak yang sebenarnya ,menurut penanggalan (kalender). Ali, misalnya CA-nya adalah 5 tahun, maka:

Angka IQ Ali sebesar 120 berarti ia tergolong anak yang cerdas (superior). Dibawah ini dijelaskan arti dari angka IQ[5]:

140 – keatas luar biasa cerdas (genius)

120 – 139 sangat cerdas (superior)

110 -119 diatas normal

70 -79 bordeline (garis batas)

50 – 69 debile

26 – 49 embicile

0 -25 idiot

  1. 2.      Tes Weschler: Ini adalah tes intelegensi yang dibuat oleh Weschler Bellevue tahun 1939. Tes ini ada 2 macam. Pertama untuk umur 16 tahun ke atas, yaitu Weschler Adult Inteligence Scale for Children  (WAIS), dan kedua tes untuk anak-anak yaitu Weschler Intelegencia Scale of  Children (WISC).Tes Weschler meliputi dua sub, yaitu verbal dan performance (tes lisan dan perbuatan dan keterampilan). Tes lisan meliputi pengetahuan meliputi pengetahuan dan umum, pemahaman, ingitan, mencari kesamaan, hitungan dan bahasa.

Sedangkan tes keterampilan meliputi:

v  Menyusun gambar

v  Melengapi gambar

v  Menyusun balok-balok keciltes

v  Menyusun bentuk gambar

v  Sandi (kode angka-angka)

Sistim scoring tes Weschler berbeda dengan Binet-Simon. Jika Binet-Simon menggunakan skala umur maka Weschler dengan skala angka. Pada tes Weschler setiap jawaban diberi skor tertentu. Jumlah skor mentah itu dikonversikan menurut daftar tabel konversi sehingga diperoleh angka IQ.

Persamaan tse Weschler dengan Binet-Simon yaitu kedua tes tersebut dilaksanakan secara individual (perorangan). Selain tes Binet-Simon dan Weschler sebagaimana dikemukakan diatas masih ada lagi tes inteligensi, yaitu tes armnya alpha dan beta.

  1. 3.      Tes army alpha dan beta: Tese ini digunakan untuk mengetes calon-calon tentara di Amerika Serikat. Tes Army Alpha khusus untuk calon tentara yang pandai membaca, sedangkan yang army beta untuk calon yang tidak pandai membaca. Tes ini diciptakan pada mulanya untuk memenuhi keperluna yang mendesak dengan menyeleksi calon tentara waktu Perang Dunia II. Salah satu kelebihanya dibandingkan dengan tes Binet-Simon dan Weschler adalah tes ini dilaksanakan secara rombongan (kelompok) sehingga menghemat waktu.
  2. Tes Progresive Metrices: Tes inteligensi ini diciptakan oleh L.S Penrose dan J.C Laven di inggris tahun 1938. Tes ini rombongan dan perorangan. Berbeda dengan Binet Weschler, tes ini tidak menggunakan percentile.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Berpikir adalah fungsi kognitif tingkat tinggi dan analisis proses berpikir menjadi bagian dari psikologi kognitif. Macam-macam kegiatan berpikir: Berpikir asosiatif (Asosiasi Bebas, Asosiasi terkontrol, melamun, mimpi, dan berpikir artistik), Berpikir terarah (Berpikir kritis dan Berpikir kreatif).

Intelegensi merupakan suatu terminologi yang agak sulit didefinisikan secara tepat, oleh karena itu dibawah ini akan diberikan ilustrasi agar dapat diperoleh gambaran secara sinngkat mengenai apa yang dimaksud dengan intelegensi tersebut. Kemampuan dalam intelegensi ada dua: kemampuan khusus dan kemampuan umum.

Tes kemampuan adalah suatu tes yang dirancang untuk mengukur kapasitas atau potensi seseorang dan bukanya apa yang sudah dicapai (actual achievement), yang pada intinya terdiri dari dua bagian: Tes intilegensia (Tes of intelegence)  dan  Tes ketangksan (Aptitude Tes).

Tes intelegensi yang standar adalah:

  • Tes Binet-Simon: Inilah adalah  tes intelegensi yang pertama kali diciptakan oleh Alfred Binet Simon tahun 1908 di Perancis
  • Tes Weschler: Ini adalah tes intelegensi yang dibuat oleh Weschler Bellevue tahun 1939
  • Tes army alpha dan beta: Tese ini digunakan untuk mengetes calon-calon tentara di Amerika Serikat
  • Tes Progresive Metrices: Tes inteligensi ini diciptakan oleh L.S Penrose dan J.C Laven di inggris tahun 1938.

DAFTAR PUSTAKA

Fauzi, H. Ahmad. 2004. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia

Rukminto, Isbandi. 1994. Psikologi. Jakarta: PT. Raja Grafindo

Sobur, Alex. 2009. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia


[1] Drs. Alex Sobur, M. Si., Psikologi Umum, (pustaka setia, 2003), hlm.,154

[2] Ibid., hlm. 201

[3] Drs. H. Ahmad Fauzi, Psikologi Umum, (Bandun, Pustaka Seni), hlm. 47

[4] Isbandi Rukminto, Pskologi, (Jakarta, 1994), hlm. 128

[5] Drs. H. Ahmad Fauzi, Psikologi Umum, (Bandung, Pustaka Setia), hlm. 101

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: