lorong29

cover korea jiwa indonesia, all about my life, all about my favorite

muamalah_jual beli

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Allah SWT telah menjadikan manusia masing-masing saling membutuhkan satu sama lain, supaya mereka tolong-menolong, tukar-menukur keperluar dalam segala urusan kepentingan hidup masing-masing, baik dengan jalan jual beli, sewa-menyewa, bercocok tanam atau perusahaan yang lain-lain, baik dalam urusan kepentingan sendiri maupun untuk kemaslahatan umum.

Dengan cara demikian kehidupan masyarakat menjadi teratur dan subur, pertalian yang satu dengan yang lainpun menjadi teguh. Akan tetapi, sifat loba dan tamak tetap ada pada manusia, suka mementingkan diri sendiri supaya hak masing-masing jangan sampai tersia-sia, dan juga menjaga kemaslahatan umum agar pertukaran dapat berjalan dengan lancar dan teratur. Oleh sebab itu agama memberi peraturan yang sebaik-baiknya; karena dengan teraturnya muamalat, maka penghidupan manusia jadi terjamin pula dengan sebaik-baiknya sehingga perbantahan dan dendam-mendendam tidak akan terjadi.

Sejarah harus berkembang, dengan mencatat berbagai kemajuan yang telah dicapai oleh umat manusia. dalam berbagai kegiatan hidupnya, termasuk dalam kegiatan perniagaan. Kalau semula alat tukar-menukar barang masih dengan menggunakan barang juga, dalam perkembangannya lebih jauh mereka mulai menyepakati perlu adanya ‘mata uang’ sebagai tanda bukti pembayaran atas suatu barang yang telah dibelinya, atau upah terhadap jasa yang telah diperolehnya. Dengan perkembangannya lebih jauh sekarang ini alat pembayaran tidak sebatas dalam bentuk mata uang (kartal), melainkan dapat juga menggunakan chek (giral)[1].

Menurut orang-orang diluar islam, mereka menganggap bahwa baik jual beli maupun riba dianggapnya sama saja, keduanya adalah kegiatan perdagangan yang menjadi kebutuhan hidup manusia.

Gambaran pendapat seperti ini telah diabadikan dalam al-Qur’an: “Hal itu karena mereka menganggap bahwa jual beli (ba’i)itu sama dengan riba” (QS-2:275). Namun secara tegas Allah menyalahkan pandangan mereka seperti itu: ”Padahal Allah telah menghalalkan jual beli (ba’i) dan mengharamkanriba”(QS-2:275)

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Jual Beli

Perdagangan atau jual beli menurut bahasa berarti al-Bai’, al-Tijarah dan al-Mubadalah. Yang dimaksud dengan jual beli adalah “pertukaran harta atas dasar saling merelakan”, atau “memindahkan hak-milik dengan ganti yang dapat dibenarkan”[2]. Sebagaimana Allah Swt. Berfirman: Mereka mengharapkan tijarah (perdagangan) yang tidak akan rugi (Fathir: 29)

Dan menurut sebuah hadits: “Hendaknya tidaklah berdagang di pasar kita selain orang yang telah faham (berilmu), bila tidak, niscaya ia akan memakan riba.” (Ucapan beliau dengan teks demikian ini dinukilkan oleh Ibnu Abdil Bar Al Maliky)

Menurut istilah (terminologi) yang dimaksud dengan jual beli adalah sebagai berikut:

  1. Menukar barang dengan barang atau barang dengan uang dengan jalan melepaskan hak milik dari yang satu kepada yang lain atas dasar saling merelakan
  2. 2.      تمليك عين ما لية بمعا و ضة  باذن شر عي

“pemilikan harta benda dengan jalan tukar menukar yang sesuai dengan aturan syara”

  1. مقا بلة مال بمال على وجه مخصوص

“tukar-menukar benda dengan benda lain dengan cara yang khusus (dibolehkan)”

Dari beberapa definisi di atas dapat dipahami bahwa inti jual beli ialah suatu perjanjian tukar-menukar benda atau barang yang mempunyai nilai secara sukarela di antara kedua belah pihak, yang satu menerima benda-benda dan pihak lain menerimanya sesuai dengan perjanjian atau ketentuan yang telah dibenarkan syara’ dan disepakati. Sesuai dengan ketapan hukum maksudnya ialah memenuhi persyaratan-persyaratan, rukun-rukun, dan hal-hal lain yang ada kaitannya dengan jual beli sehingga bila syarat-syarat dan rukunnya tidak terpenuhi berartitidak sesuai dengan kehendak syara’.

Benda dapat mencakup pengertian barang dan uang, sedangkan sifat benda tersebut harus dapat dinilai, yakni benda-benda yang beerharga dan dapat dibenarkan penggunaannya menurut syara’. Benda itu adakalanya bergerak (dipindahkan) dan adakalanya tetap (tidak dapat dipindahkan), ada yang dapat dibagi-bagi, ada kalanya tidak dapat dibagi-bagi, ada harta yang ada perumpamaannya (mitsli) dan tak ada yang menyerupainya (qimi) dan yang lain-lainnya. Penggunaan harta tersebut dibolehkan sepanjang tidak dilarang syara’.

Jual beli menurut ulama Malikiyah ada dua macam, yaitu jual beli yang bersifat umum yakni perikatan tukar-menukar sesuatu yang bukan kemanfaatan dan kenikmatan. Jual beli yang bersifat khusus yakni tukar-menukar sesuatu yang bukan kemanfaatan dan bukan pula kelezatan yang mempunyai daya tarik, penukarannya bukan mas dan bukan pula perak, bendanya dapat direalisir dan ada seketika (tidak ditangguhkan), tidak merupakan utang baik barang itu ada dihadapan si pembeli maupun tidak, barang yang sudah diketahui sifat-sifatnya atau sudah diketahui terlebih dahulu

  1. Syarat dan Rukun Jual Beli

Rukun jual beli ada tiga, yaitu akad (ijab kabul), orang-orang yang berakad (penjual dan pembeli), dan ma’kud alaih (objek akad[3]).

  • Akad (Ijab Kabul)

a)      Akad ialah ikatan kata antara penjual dan pembeli. Jual beli belum dikatakan sah sebelum ijab dan kabul dilakukan sebab ijab kabul menunjukkan kerelaan (keridhaan). Pada dasarnya ijab kabul dilakukan dengan lisan, tetapi kalu tidak mungkin, misalnya bisu atau yang lainnya, boleh ijab kabul dengan surat-menyurat yang mengandung arti ijab dan kabul.

b)      Tinjauan, adakalanya kerelaan tidak dapat dilihat sebab kerelaan berhubungan dengan hati, kerelaan dapat diketahui melalui tanda-tanda lahirnya, tanda yang jelas menunjukkan kerelaan adalah ijab dan kabul, Rasulullah Saw. bersabda:

عن أبى هريرة رض عن النبى ص م قال لا يختر قن اثنان إلا عن تراض (روه ابوداود و الترمذى)

dari Abi Hurairah r.a dari Nabi Saw. bersabda: janganlah dua orang yang jual beli berpisah, sebelum saling meridhai” (Riwayat Abu Daud dan Tirmidzi)

Jual beli yang menjadi kebiasaan, misalnya jual beli sesuatu yang menjadi kebutuhan sehari-hari tidak disyaratkan ijab dan kabul, ini adalah pendapat jumhur. Menurut fatwa ulama syafi’iyah, jual beli barang-barang yang kecilpun harus ijab dan kabul, tetapi menurut Imam Al-Nawawi dan Ulama Muta’akhirin Syafi’iyah berpendirian bahwa boleh jual beli barang-barang yang kecil dengan tidak ijab dan kabul seperti membeli sebungkus rokok.

c)      Syarat-syarat sah ijab kabul,

1)      Jangan ada yang memisahkan, pembeli jangan diam saja setelah penjual menyatakan ijab dan sebaliknya

2)      Jangan diselingi kata-kata lain anatara ijab dan kabul

3)      Beragama Islam, syarat ini khusus untuk pembeli saja dalam benda-benda tertentu, misalnya seseorang dilarang menjual hambanya yang beragama Islam kepada pembeli yang tidak beragama Islam, sebab besar kemungkinan pembeli tersebut akan merendahkan abid yang beragama Islam, sedangkan Allah melarang orang-orang mukmin memberi jalan kepada orang kafir untuk merendahkan mukmin

4)      Adanya sighat (pernyataan), yang menggambarkan terjadinya transaksi jual beli, baik secara lisan atau secara tertulis. Hal ini dapat dikecualikan terhadap transaksi jual beli atas barang-barang yang sederhana, atau yang kecil nilainya, atau atau barang-barang yang sudah ada label harganya secara pasti sebagaimana yang ada di supermaket, kiranya tidak perlu dengan adanya sghat ijab qabul. Seperti minuman coca cola dan sebangsanya yang disiapkan dalam tempat yang dirancang demikian rupa, hingga bagi pembeli cukup memasukkan mata uang coin kedalamnya, maka secara otomatis botol coca-cola yang keluar dengan sendirinya[4]

  • Orang-orang yang Berakad (Penjual dan Pembeli)

a)      Syarat-syarat akad,

1)      Baligh berakal agar tidak mudah ditipu orang. Batal akad anak kecil, orang gila, dan orang bodoh sebab mereka tidak pandai mengendalikan harta. Oleh karena itu, anak kecil, orang gila, dan orang bodoh tidak boleh menjual harta sekalipun miliknya.

2)      Beragama Islam, syarat ini khusus untuk pembeli saja dalam benda-benda tertentu, misalnya seseorang dilarang menjual hambanya yang beragama Islam kepada pembeli yang tidak beragama Islam, sebab besar kemungkinan pembeli tersebut akan merendahkan abid yang beragama Islam, sedangkan Allah melarang orang-orang mukmin memberi jalan kepada orang kafir untuk merendahkan mukmin[5]

3)      Dengan kehendak sendiri (dipaksa), seperti yang terdapat dalam firman Allah pada surat An-Nisa’:29 “janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan bathil kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku suka sama suka diantara kamu

4)      Tidak mubazir (boros), sebab harta orang yang mubazir itu ditangan walinya. Firman Allah SWT: “dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta, (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupanmu, berilah mereka belanja” (An-Nisa’:5)[6]

  • Ma’kud Alaih (Objek Akad)
  1. Bersih atau sucinya barang yang dijualnya. Jabir meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda: “sesungguhnya Allah mengharamkan memperjualbelikan khamer (minuman keras), bangkai, babi dan bermacam patung”
  2. Harus bermanfaat menurut syara’
  3. Keadaan barang yang diperjualbelikan dapat diserah terimakan. Dengan ketentuan ini maka barang yang tidak dapat diserahterimakan tidak sah untuk diperjualbelikan, seperti menjual barang yang sedang menjadi barang agunan, atau menjual ikan yang masih ada di tengah laut. Hal itu dikarenakan keduanya mengandung tipu daya (gharar), dan keduanya tidak dapat diserahterimakan pada saat terjadinya transaksi jual beli[7]
  4. Jangan ditaklikkan, yaitu dikaitkan atau digantungkan kepada hal-hal lain, seperti jika Ayahku pergi, kujual motor ini kepadamu.
  5. Tidak dibatasi waktunya, seperti perkataan kujual motor ini kepada Tuan selama satu tahun, maka penjualan tersebut tidak sah sebab jual beli merupakan salah satu sebab pemilikan secara penuh yang tidak dibatasi apapun kecuali ketentuan syara’.
  6. Dapat diserahkan dengan cepat maupun lambat tidaklah sah menjual binatang yang sudah lari dan tidak dapat ditangkap lagi.
  7. Milik sendiri, tidaklah sah menjual barang orang lain dengan tidak seizin pemiliknya atau barang-barang yang baru akan menjadi pemiliknya.
  8. Diketahui (dilihat), barang yang diperjualbelikan harus dapat diketahui banyaknya, takarannya, atau ukuran-ukuran yang lainnya, maka tidaklah sah jual beli yang menimbulkan keraguan salah satu pihak[8]
  9. C.     Prinsip-prinsip Jual Beli
  1. Hukum Asal Setiap Transaksi adalah Halal

Hubungan interaksi antara sesama manusia, baik yang tunduk kepada syari’at atau yang keluar dari ketaatan kepadanya tidak terbatas. Setiap masa dan daerah terjadi berbagai bentuk dan model interaksi sesama mereka yang berbeda dengan bentuk interaksi pada masa dan daerah lainnya. Oleh karena bukan suatu hal bijak bila hubungan interaksi sesama mereka dikekang dan dibatasi dalam bentuk tertentu. Karena itulah dalam syari’at Islam tidak pernah ada dalil yang membatasi model interaksi sesama mereka. Ini adalah suatu hal yang amat jelas dan diketahui oleh setiap orang yang memahami syari’at islam, walau hanya sedikit. Sebagai salah satu buktinya, dalam ilmu fiqih dikenal suatu kaedah besar yang berbunyi:

الأصل في الأشياء الإباحة، حتى يدل الدليل على التحريم

Hukum asal dalam segala hal adalah boleh, hingga ada dalil yang menunjukkan akan keharamannya.”

Para ulama’ juga telah menyepakati bahwa perniagaan adalah pekerjaan yang dibolehkan, dan kesepakatan ini telah menjadi suatu bagian dari syari’at Islam yang telah diketahui oleh setiap orang. Sebagai salah satu buktinya, setiap ulama’ yang menuliskan kitab fiqih, atau kitab hadits, mereka senantiasa mengkhususkan satu bab untuk membahas berbagai permasalahan yang terkait dengan perniagaan. Berangkat dari dalil-dalil ini, para ulama’ menyatakan bahwa hukum asal setiap perniagaan adalah boleh, selama tidak menyelisihi syari’at.

2. Sebab-sebab Diharamkannya Jual Beli

Bila telah dipahami bahwa hukum asal setiap perniagaan adalah halal, maka hal yang semestinya dikenali ialah hal-hal yang menjadikan suatu perniagaan diharamkan dalam Islam. Karena hal-hal yang menyebabkan suatu transaksi dilarang sedikit jumlahnya, berbeda halnya dengan perniagaan yang dibolehkan, jumlahnya tidak terbatas. Imam Ibnu Rusyud Al Maliky berkata: “Bila engkau meneliti berbagai sebab yang karenanya suatu perniagaan dilarang dalam syari’at, dan sebab-sebab itu berlaku pada seluruh jenis perniagaan, niscaya engkau dapatkan sebab-sebab itu terangkaum sebagai berikut:

Barang yang menjadi obyek perniagaan adalah barang yang diharamkan.

  1. Adanya unsur riba.
  2. Adanya ketidak jelasan (gharar).
  3. Adanya persyaratan yang memancing timbulnya dua hal di atas (riba dan gharar).

Masih ada faktor-faktor lain yang menjadikan suatu perniagaan dilarang, akan tetapi faktor-faktor tersebut merupakan faktor luar. Diantara faktor-faktor tersebut ialah:

1. Waktu, Dilarang bagi seorang muslim untuk mengadakan akap perniagaan setelah muazzin mengumandangkan azan kedua pada hari jum’at. Ketentuan ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Qs. Al Jum’ah: 9)

2. Penipuan,Telah diketahui bersama bahwa penipuan diharamkan Allah, dalam segala hal. Dan bila penipuan terjadi pada akad perniagaan, maka tindakan ini menjadikan perniagan tersebut diharamkan:

البيعان بالخيار ما لم يتفرقا، فإن صدقا وبينا بورك لهما في بيعهما، وإن كذبا وكتما محقت بركة بيعهما. متفق عليه

Kedua orang yang saling berniaga memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah, dan bila keduanya berlaku jujur dan menjelaskan, maka akan diberkahi untuk mereka penjualannya, dan bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan dihapuskan keberkahan penjualannya.” (Muttafaqun ‘alaih)

3. Merugikan orang lain, “Dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia menuturkan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Janganlah engkau saling hasad, janganlah saling menaikkan penawaran barang (padahal tidak ingin membelinya), janganlah saling membenci, janganlah saling merencanakan kejelekan, janganlah sebagian dariu kalian melangkahi pembelian sebagian lainnya, dan jadilah hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Seorang muslim adalah saudara orang muslim lainnya, tidaklah ia menzhalimi saudaranyanya, dan tidaklah ia membiarkannya dianiaya orang lain, dan tidaklah ia menghinanya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Diantara bentuk-bentuk perniagaan yang merugikan orang lain ialah:

a. Menimbun barang dagangan: Diantara bentuk penerapan terhadap prinsip ini ialah diharamkannya menimbun barang kebutuhan masyarakat banyak, sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa yang menimbun maka ia telah berbuat dosa.” (Riwayat Muslim)

b. Melangkahi penawaran atau penjualan sesama muslim: Janganlah kamu menghadang orang-orang kampung yang membawa barang dagangannya (ke pasar), dan janganlah sebagian dari kamu melangkahi penjualan sebagian yang lain, dan jangalan kamu saling menaikkan tawaran suatu barang (tanpa niat untuk membelinya), dan janganlah orang kota menjualkan barang dagangan milik orang kampung.” (Riwayat Bukhary dan Muslim)

c. Percaloan: Dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu ia menuturkan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah orang kota menjualkan barang-barang milik orang kampung, biarkanlah masyarakat, sebagian diberi rizki oleh Allah dari sebagian lainnya.” (Riwayat Muslim)

3. Jenis-jenis Akad dan Berbagai Konsekuensi Hukumnya

Diantara hal prinsip yang seyogyanya diketahui oleh setiap pengusaha atau calon pengusaha ialah mengenali macam-macam akad dan konsekwensi hukumnya masing-masing. Hal ini penting untuk diketahui dan senantiasa diperhatikan, sebab menurut pengalaman pribadi saya, dengan menguasainya pembagian akad dan konsekwensi masing-masing, memudahkan kita dalam memahami berbagai hukum syariat terkait dengannya. [Pembagian macam-macam akad ini saya sarikan dari beberapa referensi berikut: Qawaidh Ibnu Rajab Al Hambaly 1/375, kaedah ke-52, & 2/418, kaedah ke-105, Al Muwafaqat oleh As Syathiby 3/199, As Syarhul Mumti’ oleh Syeikh Ibnu Utsaimin 8/278, 9/120, 127-129, Ad Dirasyat As Syar’iyah li Ahammil uqud Al Maliyyah Al Mustahdatsah, oleh Dr. Muhammad Musthofa As Syinqity 1/73-89][9]

  1. D.    Jual Beli yang Terlarang

1)      Jual beli yang tidak sah dan dilarang oleh Islam adalah sebagai berikut:

  • Barang yang dihukumkan najis oleh agama, seperti anjing, babi, berhala, bangkai, dan khamar
  • Jual beli sperma (mani) hewan, seperti mengawinkan seekor domba jantan dengan betina agar dapat memperoleh turunan
  • Jual beli anak binatang yang masih berada dalam perut induknya
  • Jual beli dengan muhaqallah. Baqallah berarti tanah, sawah, dan kebun, maksud muhaqallah di sini ialah menjual tanam-tanaman yang masih di ladang atau di sawah
  • Jual beli dengan mukhadharah, yaitu menjual buah-buahan yang belum pantas untuk dipanen, seperti menjual rambutan yang masih hijau, mangga yang masih kecil-kecil, dan yang lainnya
  • Jual beli dengan muammassah, yaitu jual beli secara sentuh-menyentuh, misalkan seseorang menyentuh sehelai kain dengan tangannya di waktu malam atau siang hari, maka orang yang menyentuh berarti telah membeli kain tersebut
  • Jual beli dengan munabadzah, yaitu jual beli secara lempar-melempar, seperti seseorang berkata “lemparkan kepadaku apa yang ada padamu,nanti kulemparkan pula kepadamu apa yang ada padaku”. Setelah terjadi lempar-melempar, terjadilah jual beli
  • Jual beli dengan mudzabanah, yaitu menjual buah yang basah dengan buah yang kering, seperti menjual padi kering dengan bayaran padi basah, sedangkan ukurannya dengan dikilo sehingga akah merugikan pemilik padi kering
  • Menentukan dua harga untuk satu barang yang diperjual belikan
  • Jual beli dengan syarat, jual beli seperti ini hampir sama dengan jual beli dengan menentukan dua harga, hanya saja di sini dianggap sebagai syarat
  • Jual beli gharar, yaitu jual beli yang samar sehingga ada kemungkinan terjadi penipuan, seperti penjualan ikan yang masih di kolam atau menjual kacang tanah yang atasnya kelihatan bagus tetapi di bawahnya jelek
  • Jual beli dengan mengecualikan sebagian benda yang dijual, seperti seseorang  menjual sesuatu dari benda itu ada yang dikecualikan salah satu bagiannya, misalnya A menjual seluruh pohon-pohonan yang ada di kebunnya, kecuali pohon pisang. Jual beli ini sah sebab yang dikecualikannya jelas. Namun bila yang dikecualikannya tidak jelas, jual beli ini batal
  • Larangan menjual makanan hingga dua kali ditakar[10]

2)      Jual Beli yang Sah Tetapi Dilarang Oleh Islam adalah sebagai berikut:

  • membeli barang dengan harga yang jauh lebih mahal dari harga pasar,dengan tujuan agar orang laintidak dapat membeli barang tersebut.
  • membeli barng yang sudah dibeli oleh orang lain sewaktu dalam masa transaksi,Rosulullah saw menyatakan:dari abu huroiroh RA menyatakan bahwa rosulullah SAW telah bersabda “janganlah seseorang diantara kalian membeli sesuatu yang telah dibeli orang lain”(muttafaqunalaih)
  • membeli barang dagangan dengan cara mencegat para penjual sebelum sampai dipasar.cara  seperti itu dilarang dilarang karena si penjual dapar terkecoh karena beli mengetahui harga yang sebenarnya yang berkembang pada ketika itu,rosululla Saw menyatakan ‘jnganlah kalian menghadang para penjauk dagangan sebalum mereka sampai dipasar”(muttafaqun alaih)
  • membeli barang untuk di simpan(menumbun barang),dengan tujuan agar barang yang seperti yang di tibunya menjadi barang langka,hingga seperti ketika dilepaskan di pasar dapat dijualnya dengan harga yang mahal. Rosulullah menyatakan: “tidak ada orang yang menahan atau menimbun barang (kebuthna hidup)terkecuali orang durhaka.
  • jual beli dengan cara mengecoh,baik yang dilakukan oleh penjual atau dari fihak pembeli. Rosulullah menyatakan:”bahwasanya rosulullah saw pernah melewat satu tumpukan makanan yang dijual,kemudian beliau memasukkan tnganya kedalama tumpukan tersebut.tiba-tiba tngan beliau berang yang basah,maka beliaupun berseru”mengapa demikian wahai pemilik makanan?” si penjual mengatakan “telah terkena air hujan wahai rosulullah!”. Rosulullahpun bersabda “mengapa tiidak engkau taruh saja di atas agar bisa dilihat orang?” barang siapa yang mengecoh (dagangan) bukanlah termasuk untukmu” (H.r.Muslim dari abu Hurairah)[11]
  1. E.     Problematika Jual beli dalam Realitas Kehidupan

Khiar dalam Jual Beli: dalam jual beli menurut agama Islam dibolehkan memilih, apakah akan meneruskan jual beli atau akan membatalkannya. Oleh karena jual beli harus didasari suka sama suka, maka pedagang dan konsumen sama-sama diberikan hak khiyar agar dapat saling menghindari kesalahan atau maksud jahat dari pihak yang satu terhadap pihak yang lain.

Betapa sekarang ini banyak penawaran barang yang mengandung unsur penipuan. Maka dalam syari’at Islam, konsumen diberikan hak khiyar untuk bisa menuntut pembatalan secara kekeluargaan ataupun melalui jalur hukum. Sebaliknya, tidak sedikit konsumen yang memberikan alat bayar berupa uang palsu, baik disengaja atau tidak.

Jadi, dari sisi pihak pedagang maupun dari sisi pihak konsumen, hak khiyar itu merupakan salah satu wujud implementasi dari salah satu prinsip syari’at Islam, yaitu (perlindungan atas hak millik) bagi kedua pihak.

Berselisih dalam Jual Beli: penjual dan pembeli dalam melakukan jual beli sebaiknya berlaku jujur, berterus terang dan mengatakan yang sebenarnya, maka jangan berdusta dan jangan bersumpah dusta, sebab sumpah dan dusta menghilangkan berkah jual beli.

Bila antara penjual dan pembeli berselisih pendapat dalam suatu benda yang diperjual belikan, maka yang dibenarkan ialah kata-kata yang punya barang, bila antara keduanya tidak ada saksi dan bukti lainnya.

Badan Perantara (simsaru): yaitu seseorang yang menjualkan barang orang lain atas dasar bahwa seseorang itu akan diberi upah oleh yang punya barang sesuai dengan usahanya.

Orang yang menjadi simsar dinamakan pula komisioner, makelar, atau agen, tergantung persyaratan-persyaratan atau ketentuan-ketentuan menurut Hukum Dagang yang berlaku dewasa ini. Walaupun namanya simsar, komisioner, dan lain-lain, namun mereka bertugas sebagai badan perantara dalam menjualkan barang-barang dagangan baik atas namanya sendiri maupun atas nama perusahaan yang memiliki barang.

Berdagang secara simsar dibolehkan berdasarkan agama asal dalam pelaksanaannya tidak terjadi penipuan dari yang satu terhadap yang lainnya.

Lelang (Muzayadah): penjualan ini dibolehkan oleh agama Islam karena dijelaskan dalam satu keterangan: “dari Anas RA, ia berkata, Rasulullah SAW. Menjual sebuah pelana dan sebuah mangkok air dengan berkata ‘siapa yang mau membeli pelana dan mangkok ini?’ seorang laki-laki menyahut: ‘aku bersedia membelinya seharga satu dirham’. Lalu nabi berkata lagi: ‘siapa yang berani menambahi?’ maka diberilah dua dirham oleh seorang laki-laki kepada beliau, lalu dijuallah kedua benda itu kepada laki-laki yang menawarkan dua dirham” (riwayat Tirmidzi)

Buah-buahan yang Rusak Setelah Dijual: buah-buahan yang sudah dijual kemudian rusak atau hilang dan yang lain-lainnya, maka kerusakan itu ditanggung penjual, bukan tanggungan pembeli. Hal ini sebagai mana disabdakan oleh Rasulullah SAW: “jika engkau telah menjual buah-buahan kepada saudaramu, lalu buah-buahan itu rusak (busuk), maka haram bagimu mengambil sesuatu darinya, apakah kamu mau mengambil harta saudaramu dengan tidak hak” (riwayat Muslim)[12]

Pasar uang berbasis syari’ah, di dalam dunia ekonomi modern sekarang ini sesuatu yang diperjualbelikan tidak terbatas pada barang-barang kebutuhan hidup, baik yang berupa barang-barang yang bersifat konsumtif, maupun yang berupa alat-alat industri. Kini dunia ekonomi modern ‘pasar uang’, yaitu suatu pasar dimana diperdagangkan surat-surat bebagai jangka pendek, guna memobilisir sumber dana dan mengamankan likuiditas (kemampuan membayar hutang jangka pendek) apabila diperlukan. Dalam pasar uang konvensional, jual beli yang berupa surat-surat berharga kecuali saham, seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI), obligasi semuanya berbasis bunga. Dan oleh karenanya maka jual beli seperti ini dalam hukum syara’ dimasukkan ke dalam kelompok jual beli yang dihukumkan haram.

Bagi bank syari’ah tidak diperbolehkan untuk menginvestasiakan sebagian dari dana deposito yang diterimanya dalam bentuk membeli surat-surat berharga yang berbasis bunga seperti di atas.

Pasar valuta asing berbasis syari’ah, dalam dunia modern kehadiran pasar valuta asing yang memperjualbelikan berbagai mata uang asing merupakan kebutuhan mutlak, guna melancarkan transaksi jual beli tingkat internasional. Jual beli mata uang valuta asing dalam pandangan Islam seperti ini dapat dianalogikan dengan pertukaran emas dengan perak. Oleh karena itu menurut Zainal Arifin[13], ketentuannya tetap mengacu pada perdagangan atau pertukaran pada umumnya yang berbasis syari’ah, antara lain:

a)      Pertukaran tersebut harus dilakukan dengan kontan, artinya masing-masing pihak harus menerima atau menyerahkan masing-masing mata uang yang dipertukarkan pada waktu yang bersamaan

b)      Motif pertukaran tersebut harus dalam rangka mendukung transaksi komersial, bukan dalam rangka spekulasi

c)      Harus diindari adanya jual beli bersyarat

d)     Transaksi berjangka harus dilakukan antara pihak-pihak yang dapat dipastikan mampu menyediakan valuta asing yang dipertukarkan

e)      Tidak dibenarkan menjual sesuatu barang yang belum di tangan

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Kebutuhan hidup setiap manusia berkaitan erat dengan sesuatu yang dimiliki oleh manusia yang lain, sementara manusia yang lain tidak akan mau memberikan sesuatu yang dimilikinya tanpa suatu imbalan. Berarti dibolehkannya jual beli merupakan solusi bagi setiap manusia untuk dapat memenuhi hajat hidupnya, karena masing-masing sebagai makhluk sosial tidak bisa hidup tanpa adanya suatu bentuk transaksi antar sesama.

Yang dimaksud dengan jual beli adalah “pertukaran harta atas dasar saling merelakan” sedangkan inti jual beli ialah suatu perjanjian tukar-menukar benda atau barang yang mempunyai nilai secara sukarela di antara kedua belah pihak, yang satu menerima benda-benda dan pihak lain menerimanya sesuai dengan perjanjian atau ketentuan yang telah dibenarkan syara’ dan disepakati. Sesuai dengan ketapan hukum maksudnya ialah memenuhi persyaratan-persyaratan, rukun-rukun, dan hal-hal lain yang ada kaitannya dengan jual beli sehingga bila syarat-syarat dan rukunnya tidak terpenuhi berartitidak sesuai dengan kehendak syara’. Terdapat juga Rukun jual beli yang ada tiga, yaitu akad (ijab kabul) yakni ikatan kata antara penjual dan pembeli, orang-orang yang berakad (penjual dan pembeli), dan ma’kud alaih (objek akad).

Dalam jual beli ada Prinsip-prinsip jual beli yakni Hukum Asal Setiap Transaksi adalah Halal, Sebab-sebab Diharamkannya Jual Beli, Jenis-jenis Akad dan Berbagai Konsekuensi Hukumnya. Jual beli sendiri tidak sepenuhnya boleh. Ada juga yang dilarang.

Ada berbagai problematika yang kita jumpai dalam jual beli, seperti Khiar dalam Jual Beli adalah dalam jual beli menurut agama Islam dibolehkan memilih, apakah akan meneruskan jual beli atau akan membatalkannya. Berselisih dalam Jual Beli adalah penjual dan pembeli dalam melakukan jual beli sebaiknya berlaku jujur, berterus terang dan mengatakan yang sebenarnya, maka jangan berdusta dan jangan bersumpah dusta, sebab sumpah dan dusta menghilangkan berkah jual beli. Badan Perantara (simsaru) adalah yaitu seseorang yang menjualkan barang orang lain atas dasar bahwa seseorang itu akan diberi upah oleh yang punya barang sesuai dengan usahanya. Lelang (Muzayadah). Buah-buahan yang Rusak Setelah Dijual yaitu buah-buahan yang sudah dijual kemudian rusak atau hilang dan yang lain-lainnya, maka kerusakan itu ditanggung penjual, bukan tanggungan pembeli, Pasar uang berbasis syari’ah dan Pasar valuta asing berbasis syari’ah.

Sekarang tinggal bagaimana kita mengambil hikmah dari telaah atau penjelasan mengenai jual-beli yang baik menurut pandangan Islam. Tentu saja butuh belajar yang lebih mendalam pula dalam hal ini praktek harus diutamakan.

  1. Saran

Dari kesimpulan yang kami jabarkan tersebut di atas, tentu ada beberapa masukan atau saran yang mungkin sedikit berguna bagi pembaca terkait jual beli dalam pandangan Agama kita, Islam, yakni sebagai berikut:

       I.            Jual beli mungkin terlihat remeh dan mudah di jalankan oleh siapapun. Tapi terkait pandangan Islam tentu kita perlu membaca banyak literatur mengenai jual beli menurut pandangan Islam.

    II.            Melihat langsung di lapangan

 III.            Banyak bertanya dan berdiskusi pada ahlinya

 IV.            Praktek kecil-kecilan

Demikian saran-saran dari kami, semoga bermanfaat. Kalaupun tidak berhasil dalam misi jual beli dengan cara Islam, coba terus dan jangan menyerah. Jangan mau kalah dengan prinsip jual beli non muslim.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.google.com

http://www.yahoo.com

Kamal, Mustafa, Chalili, dan Wahardi. 1999. Fikih Islam.Jakarta: Citra Karsa Mandiri

Keraf, Gorys. 2001. Komposisi. Jakarta: Nusa Indah

Mufti, Baidlowi, Mahmud Yunus, Masroni. 2008. Fiqih SMA/SMK Jilid 2. Sidoarjo: BAPENBU

Rasjid, Sulaiman. 1998. Fiqih Islam. Bandung: PT. Sinar Baru Algensindo Offsed

Suhendi, hendi. 2010. Fiqh Muamalah.Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada


[1] Diambil dari http://www.yahoo.com

[2] Drs. Musthafa Kamal, B. Ed, Chalil, dan Wahardjani, Fikih Islam, (Jakarta: Citra Karsa Mandiri, 1999), hlm. 355

[3] Prof. Dr. H. Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010), hlm. 70

[4] Drs. Mustafa Kamal, B. Ed, Chalili, dan Wahaedjani, Op.Cit, hlm. 356

[5] Prof. Dr. H. Hendi Suhendi, Op.Cit, hlm. 71

[6] H. Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam, (Bandung: PT. Sinar Baru Algensindo Offsed, 1998), hlm. 279

[7] Drs. Mustafa Kamal, B. Ed, Chalili, dan Wahaedjani, Loc.Cit

[8] Prof. Dr. H. Hendi Suhendi, Op.Cit, hlm. 73

[9] Diambil dari http://www.google.com

[10]M. Baidlowi Mufti, BA, Yunus, dan Masroni, Fiqih SMA/SMK jilid 2, (Sidoarjo: BAPENBU, 2008), hlm. 14

[11] Drs. Mustafa Kamal, B. Ed, Chalili, dan Wahaedjani, Op.Cit, hlm.358

[12]Prof. Dr. H. Hendi Suhendi, Op.Cit, hlm. 89

[13] Drs. Mustafa Kamal, B. Ed, Chalili, dan Wahaedjani, Op.Cit, hlm. 359

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: