lorong29

cover korea jiwa indonesia, all about my life, all about my favorite

Kepemimpinan Berdasarkan Al-Qur’an

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Kepemimpinan bukan suatu yang istimewa, tetapi tanggung jawab, ia bukan fasilitas tetapi pengorbanan, juga bukan untuk berleha-leha tetapi kerja keras. Ia juga bukan kesewenang-wenangan bertindak tetapi kewenangan melayani. Kepemimpinan adalah berbuat dan kepeloporan bertindak.

Imam dan khalifah adalah dua istilah yang digunakan dalam Al-Qur’an untuk menunjuk “pemimpin”. Kata Imam terambil dari kata amma yaummu, yang berarti menuju, menumpu, dan meneladani. Kata khalifah berakar kata khalafa, yang pada mulanya berarti “di belakang”, seringkali juga diartikan “pengganti”, karena yang menggantikan selalu berada di belakang, atau datang sesuadah digantikannya.

Kita dapat berkata bahwa Al-Qur’an menggunakan kedua istilah ini, untuk menggambarkan ciri seorang pemimpin, sekali di depan menjadi panutan. Ing ngarso sung tulodo. Dan dalam arti lain di belakang untuk mendorong sekaligus mengikuti kehendak dan arah yang dituju oleh yang dipimpinnya, atau tut wuri handayani.

Pemimpin yang baik akan mengkomunikasikan energinya, antusiasmenya, ambisinya, kesabarannya, kesukaannya, dan arahannya. Terdapat beberapa ciri yang dimiliki pemimpin yang baik meliputi kejujuran dan integritas, menggerakkan, memiliki gairah memimpin, percaya diri, intelegensi, dan pengetahuan yang relevan dengn pekerjaan.

Rasulullah dalam sabdanya menyatakan bahwa pemimpin suatu kelompok adalah pelayan pada kelompok tersebut. Sehingga sebagai seorang pemimpin hendaklah dapat, mampu dan mau melayani, serta menolong orang lain untuk maju dengan ikhlas. “seorang pimpinan belum tentu dapat disebut sebagai pemimpin, demikian juga sebaliknya. Seorang pemimpin belum tentu menjadi pimpinan”. Itulah fakta yang umum terjadi pada kebanyakan pimpinan atau pemimpin model sekarang ini baik perusahaan bisnis atau organisasi sosial.

Atau dengan kata lain seorang pimpinan adalah orang yang mempunyai kemampuan sebagai pemimpin yang didukung dengan “kekuasaan”, sehingga kemajuan organisasi yang dipimpin berbanding lurus dengan kemajuan para pengikutnya.

Tetapi seiring dengan berkembangnya zaman, arti kata pimpinan mulai bergeser kearah negatif (pimpinan hanya identik dengan kekuasaan, bukan kemampuan untuk memimpin, karena kebanyakan dari mereka agak lebih mementingkan diri/golongan & selalu melayani minta dilayani, dan jangan Tanya kenapa?

Sebaliknya, arti kata pemimpin juga bergeser pula kearah positif. Tapi jika tidak didukung oleh pimpinan yang tidak mempunyai “kekuasaan”, pemimpin yang sejati ini akan serupa seperti katak dalam tempurung.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 30

واذقا ل ربك للملاىكة انى جا عل فى الارض خليفة قا لواا تجعلو فيها من يفسد فيها و يسفك الد ما ء ونحن نسبح بحمد ك ونقدس لك قا ل انى اعلم ما لا تعلمون (  )

Artinya

Dan (ingatlah) ketika tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?”Dia berfirman, “Sungguh aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui,”.

   Tafsir kata-kata sulit

Bahwa kata ( خلىفة  ) pada mulanya berarti yang menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya. Dalam bahasa arab kata (     ملاىكة) adalah bentuk jamak dari kata  ( ملك ) malak terambil dari kata (  ألك ) atau  (    (مأكة     berarti mengutus, perutusan atau risalah. Malaikat adalah utusan-utusan tuhan untuk berbagai tuga. ada yang berpendapat bahwa kata “malak” terambil dari kata ( لأ ك ) berarti menyampaikan sesuatu. Malak atau malaikat adalah mahkluk yang menyampaikan sesuatu dari Alloh swt.

   Penjelasan tafsir

Banyak  ulama berpendapat bahwa malaikat dari segi pengertiannya dalam bahasa agama adalah Makhluk halus yang diciptakan Alloh dari cahaya yang dapat berbentuk dengan berbentuk dengan aneka bentuk, taat mematuhi perintah alloh, dan sedikitpun tidak membangkang. Alloh menganugrahkan kepada mereka akal dan pemahaman,menciptakan bagi mereka naluri untuk taat, serta memberi mereka kemampuan berbentuk dengan berbagai bentuk yang indah dan kemampuan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat.

Syekh Muhammad abduh yang dikenal beraliran rasional ia menrgaskan bahwa” Malaikat adalah makhluk- makhluk ghoib yang tidak dapat di ketahui hakikatnya, namun harus dipercayai wujudnya”. Ketika menafsirkan ayat ini syekh Muhammad abduh sebagaimana diuraikan oleh rasyid ridha dalam tafsirnya Al- manar, mengemukakan satu pendapat kontrolversial. Ulama mesir itu berpendapat bahwa tidak mustahil, tidak juga ada keberatan akal atau agama, untuk memahami apa yang dinamai oleh agama malaikat, dinamai oleh orang lain hukum-hukum alam.

Malaikat menurut Abduh dilukiskan oleh Al-qur’an Antara lain sebagai (  فا لمد بر ا ت أ مرا   ) fa al-mudabbirat amro (QS.an-Nazi’at{79}: 5) yakni yang mengatur segala urusan. Ini diperankan oleh hukum-hukum alam, sehingga tidak ada salahnya memahami malaikat atau dampak dari perananya adalah dampak dari hukum-hukum alam. Dorongan memilih yang baik lahir dari peran malaikat, dan yang buruk dari peran syetan. Jika demikian, dalam pandangan Abduh tidak keliru juga jika malaikat atau perananya dinamai pula dengan nurani manusia.

Ada dua pokok yang dituntut oleh islam menyangkut kpercayaan kepada malaikat yaitu :

  • Pertama, percaya tentang wujud malaikat, yakni bahwa mereka mempunyai eksistensi, mereka adalah makhluk yang diciptakan Alloh, mereka bukan maya, bukan ilusi, dan bukan pula sesuatu  yang menyatu dalam diri manusia.
  • Kedua, percaya bahwa mereka adalah hamba-hamba Alloh yang taat, yang diberi tugas-tugas tertentu  oleh-Nya, seperti membagi rizki, memikul singgasana ilahi, mencatat amal-amal manusia, menjadi utusan alloh kepada manusia, dan lain-lain, menjadi bagian dari yang harus diketahui dan atau dipercayai.

Di atas terbaca bahwa Alloh swt. Menyampaikan rencanaNya kepada malaikat.  Penyampaian itu boleh jadi ketika proses kejadian adam sedang di mulai, seperti hal nya seorang yang sedang menyelesaikan satu karya sambil berkata bahwa bahwa misalnya “ ini saya buat untuk si A “. Ini menunjukan bahwa Alloh tidak  meminta pendapat malaikat apakah dia pencipta atau tidak.  Penyampaian ini menurut thahir Ibn Asyur, agaknya untuk mengantar para malaikat bertanya sehingga mengetahui keutamaan jenis makhlik yang akan diciptakan-Nya itu dan dengan demikian dapat  juga terkikis kesan ketidakmampuan manusia yang diketahui Alloh terdapat dalam benak para malaikat.

Setelah menguraikan  pendapat banyak mufassir sebagaimana di kutip di atas, Ibn Asyur mengemukakan pendapat bahwa (    استشا ر ه) istisyarah/ permintaan pendapat, dijadikan  demikian supaya ia menjadi satu subtansi yang bersamaan dalam wujudnya dengan penciptaan manusia pertama, agar ia menjadi bawaan dalam jiwa anak cucunya, karena situasi dan ide-ide yang menyertai wujud sesuatu dapat berbekas dan menyatu antara sesuatu yang wujud itu dengan sesuatu tersebut.

Kembali kepada ayat di atas, setelah Alloh memberi jawaban lisan singkat ,Kelompok ayat tersebut  dimulai dengan penyampaian keputusan alloh kepada para malaikat tentang rencana-Nya menciptakan manusia di bumi.  Karena malaikat akan dibebani sekian tugas yang menyangkut manusia, ada yang bertugas mencatat amal manusia, ada yang bertugas memeliharanya dan membimbingnya. Penyampaian itu juga, kelak ketika diketahui oleh manusia, akan mengantarnya bersyukur kepada alloh atas anugerah-Nya yang tersimbul dalam dialog Alloh dengan para malaikat.” Sesungguhnya aku akan menciptakan khalifah di dunia”

  1. B.     Tafsir Surat Shad Ayat 26

ߊ¼ãr#y‰»tƒ $¯RÎ) y7»oYù=yèy_ Zpxÿ‹Î=yz ’Îû ÇÚö‘F{$# Läl÷n$$sù tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# Èd,ptø:$$Î/ Ÿwur ÆìÎ7®Ks? 3“uqygø9$# y7¯=ÅÒãŠsù

 `tã È@‹Î6y™ «!$# 4 ¨bÎ) tûïÏ%©!$# tbq=ÅÒtƒ `tã È@‹Î6y™ «!$# öNßgs9 Ò>#x‹tã 7‰ƒÏ‰x© $yJÎ/ (#qÝ¡nS tPöqtƒ É>$|¡Ïtø:$#

Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.

Pengertian Secara Ijmal

Setelah Allah Swt menceritakan kepada kita kisah tentang Daud dan dua orang yang bersengketa, maka dilanjutkanlah dengan menerangkan bahwa Allah menyerahkan kepada Daud kekhalifahan di muka bumi, dan berwasiat kepadanya agar memberi hukum di antara  manusia secara benar dan jangan mengikuti hawa nafsu, sehingga tidak tersesat dari jalan Allah. Kemudian, Allah menyebutkan pula bahwa barang siapa yang sesat dari jalan Allah, maka dia akan mendapatkan adzab yang pedih dan tempat kembali yang buruk, karena berarti dia melupakan hari hisab dan pembalasan.[1]

Penjelasan

ߊ¼ãr#y‰»tƒ $¯RÎ) y7»oYù=yèy_ Zpxÿ‹Î=yz ’Îû ÇÚö‘F{$#

Hai Daud, sesungguhnya Kami mengangkatmu jadi khalifah di muka bumi dan Kami jadikan kamu pelaksana hukum di antara rakyat. Kamu mempunyai kerajaan dan kekuasaan, sedang mereka wajib mendengar dan taat tanpa boleh menyalahi satu pun perintahmu dan tak boleh menegakkan tongkat di depan wajahmu.

Kemudian, Allah menyebutkan konsekuensi dari jabatan tersebut. Firman-Nya:

Läl÷n$$sù tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# Èd,ptø:$$Î/

Maka, berilah keputusan perkara di antara manusia dengan kebenaran yang diturunkan dari sisi-Ku dan yang telah Aku syari’atkan untuk hamba-hamba-Ku. Karena, itu semua mengandung kemaslahatan bagi mereka di dunia dan akhirat.

Sesudah itu, Allah menegaskan keterangan tersebut dengan melarang melakukan kebalikannya. Firman-Nya:

Ÿwur ÆìÎ7®Ks? 3“uqygø9$##

Dan janganlah mengikuti hawa nafsu dalam menjalankan pemerintahan maupun lainnya, baik itu urusan agama maupun dunia.

Hal ini merupakan bimbingan kepada apa yang dituntut oleh jabatan sebagai Nabi, dan merupakan peringatan bagi siapa pun yang ada di bawahan agar menempuh jalan yang lurus ini.

Kemudian, Allah menerangkan tentang betapa buruknya akibat mengikuti hawa nafsu. Firman-Nya:

           y7¯=ÅÒãŠsù `tã È@‹Î6y™ «!$#

Jika kamu mengikuti hawa nafsu, maka hal itu akan menyebabkan kamu tersesat dari petunjuk yang telah Aku tegakkan dan rambu-rambu yang telah Aku pasang untuk membimbing manusia kepada jalan keselamatan dengan memperbaiki keadaan masyarakat mengenai agama maupun dunianya, di samping membimbing masyarakat sehingga menempuh jalan benar yang menghubungkan anatara mereka dengan Tuhannya, dan antara mereka dengan sesamanya.

Kemudian, Allah Swt menerangkan tentang bahaya dari kesesatan dan akibatnya yang buruk. Firman-Nya:

¨bÎ) tûïÏ%©!$# tbq=ÅÒtƒ `tã È@‹Î6y™ «!$# öNßgs9 Ò>#x‹tã 7‰ƒÏ‰x© $yJÎ/ (#qÝ¡nS tPöqtƒ É>$|¡Ïtø:$#

Sesungguhnya orang-orang yang meninggalkan kebenaran dan sesat dari jalan yang ditandai rambu-rambu Ilahi, mereka akan mendapatkan adzab yang pedih dari Allah pada hari hisab karena mereka melupakan kengerian-kengerian yang ada pada hari itu. Dan bahwa Allah akan menghisab setiap jiwa atas apa yang telah dia lakukan. Barang siapa yang mengotori dirinya dan membiarkannya menempuh jalan kemaksiatan, maka pasti akan mendapatkan adzab yang telah Aku tetapkan bagi orang-orang yang bermaksiat sebagai balasan yang setimpal atas perbuatan-perbuatan yang telah mereka lakukan dengan tangan-tangan mereka.[2]

  1. Apakah Pemimpin itu?

Kata “to lead” jelas diambil dari ekspresi Viking. Kepemimpinan adalah kemampuan meyakinkan orang lain supaya bekerja sama di bawah pimpinannya sebagai suatu tim untuk mencapai atau melakukan suatu tujuan tertentu[3], demikian tulis James M. Black dalam buku “Management, A guide to Executive Command”.

Seorang pemimpin berfungsi memastikan seluruh tugas dan kewajiban dilaksanakan di dalam suatu organisasi. Seorang pemimpin adalah seorang yang unik dan tidak diwariskan secara otomatis[4], akan tetapi untuk menjadi seorang pemimpin haruslah memiliki karakteristik tertentu yang timbul pada situasi-situasi berbeda. Ada banyak definisi tentang kepemimpinan. Tapi bagi kita, secara mendasar leadership berarti mempengaruhi orang. Ini merupakan definisi yang luas dan termasuk di dalamnya bermacam-macam perilaku yang diperlukan untuk mempengaruhi orang lain. Sebagian besar perspektif leadership memandang pemimpin sebagai sumber pengaruh. Pemimpin memimpin pada dasarnya memengaruhi dan para pengikut mengikuti sebagai pihak yang dipengaruhi.

Kepemimpinan berasal dari kata pemimpin, yang artinya adalah orang yang berada di depan dan memiliki pengikut, baik orang tersebut menyesatkan atau tidak. Ketika berbicara kepemimpinan maka ia akan berbicara mengenai perihal pemimpin, orang yang memimpin baik itu cara dan konsep, mekanisme pemilihan pemimpin, dan lain sebagainya.

  1. D.    Pandangan Islam tentang Pemimpin

Kepemimpinan bukan suatu yang istimewa, tetapi tanggung jawab, ia bukan fasilitas tetapi pengorbanan, juga bukan untuk berleha-leha tetapi kerja keras. Ia juga bukan kesewenang-wenangan bertindak tetapi kewenangan melayani. Kepemimpinan adalah berbuat dan kepeloporan bertindak.

Imam dan khalifah adalah dua istilah yang digunakan dalam Al-Qur’an untuk menunjuk “pemimpin”. Kata Imam terambil dari kata amma yaummu, yang berarti menuju, menumpu, dan meneladani. Kata khalifah berakar kata khalafa, yang pada mulanya berarti “di belakang”, seringkali juga diartikan “pengganti”, karena yang menggantikan selalu berada di belakang, atau datang sesuadah digantikannya.

At-Tabrasi dalam tafsirnya mengemukakan bahwa kata imam mempunyai makna yang sama dengan khalifah. Hanya saja kata imam digunakan untuk keteladanan. Karena ia diperoleh dari kata yang mengandung arti kata depan, berbeda dengan khalifah yang terambil dari kata “belakang”.

Kita dapat berkata bahwa Al-Qur’an menggunakan kedua istilah ini, untuk menggambarkan ciri seorang pemimpin, sekali di depan menjadi panutan. Ing ngarso sung tulodo. Dan dalam arti lain di belakang untuk mendorong sekaligus mengikuti kehendak dan arah yang dituju oleh yang dipimpinnya, atau tut wuri handayani.

Para pakar, setelah menelusuri Al-Qur’an dan hadits menetapkan empat sifat yang harus dipenuhi oleh para nabi[5] yang pada hakikatnya adalah pemimpin umatnya, yaitu (1) Ash-Shidq, yakni kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap , berucap, serta berjuang melaksanakan tugasnya. (2) Al-Amanah, atau kepercayaan, yang menjadikan dia memelihara sebaik-baiknya apa yang diserahkan kepadanya, baik dari Tuhan amupun dari orang-orang yang dipimpinnya, sehingga tercipta rasa aman bagi semua pihak. (3) Al-Fathanah, yaitu kecerdasan yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul seketika sekalipun. (4) At-Tabligh, yaitu penyampaian yang jujur dan bertanggung jawab, atau dapat diistilahkan dengan “keterbukaan”.

Pemimpin yang baik akan mengkomunikasikan energinya, antusiasmenya, ambisinya, kesabarannya, kesukaannya, dan arahannya. Terdapat beberapa ciri yang dimiliki pemimpin yang baik meliputi kejujuran dan integritas, menggerakkan, memiliki gairah memimpin, percaya diri, intelegensi, dan pengetahuan yang relevan dengn pekerjaan.

Pemimpin yang tidak baik adalah (1)diktator, penggertak, dan tidak konsisten; (2)merasa terancam oleh opini yang berbeda-beda dan akan dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki pandangan serupa; (3)menyembunyikan informasi dan menggunakan kekuasaannya untuk memengaruhi perubahan; (4)menikmati untuk mengintimidasi staf dan sering kali otokratik; (5)tidak memiliki dimensi tunggal; (6)lebih suka memadamkan konflik dari pada menarik keluar perbedaan-perbedaan; (7)sedikit suka bekerja bila ada kedekatan hubungan.

  1. E.     Ciri Pemimpin Menurut Islam

Rasulullah dalam sabdanya menyatakan bahwa pemimpin suatu kelompok adalah pelayan pada kelompok tersebut. Sehingga sebagai seorang pemimpin hendaklah dapat, mampu dan mau melayani, serta menolong orang lain untuk maju dengan ikhlas. Beberapa ciri penting yang menggambarkan kepemimpinan Islam[6] adalah sebagai berikut:

  1. Setia, pemimpin dan orang yang dipimpin terikat kesetiann kepada Allah.
  2. Terikat pada tujuan, seorang pemimpin ketika diberi amanah sebagai pemimpin dalam melihat tujuan organisasi bukan saja berdasarkan kepentingan kelompok, tetapi juga dalam ruang lingkup tujuan Islam yang lebih luas.
  3. Menjunjung tinggi syariat dan akhlak Islam, seorang pemimpin yang baik bilamana ia merasa terikat dengan peraturan Islam, dan boleh menjadi pemimpin selama ia tidak menyimpang dari syariah. Waktu ia melaksanakan tugasnya ia harus patuh kepada adab-adab Islam, khususnya ketika berhadapan dengan golongan oposisi atau orang-orang yang tidak sepaham.
  4. Memegang teguh amanah, seorang pemimpin ketika menerima kekuasaan menganggap sebagai amanah dari Allah yang disertai oleh tanggung jawab. Alqur’an memerintahkan pemimpin melaksanakan tugasnya untuk Allah dan selalu menunjukkan sikap baik kepada orang yang dipimpinnya.
  5. Tidak sombong, menyadari bahwa diri kita ini adalah kecil, karena yang besar dan Maha Besar hanya Allah, sehingga hanya Allahlah yang boleh sombong. Sehingga kerendahan hati dalam memimpin merupakan salah satu ciri kepemimpinan yang patut dikembangkan.

Disiplin, konsisten, dan konsekuen. Merupakan ciri kepemimpinan dalam Islam dalam segala tindakan, perbuatan seorang pemimpin. Sebagai perwujudan seorang pemimpin yang profesional akan memegang teguh terhadap janji, ucapan dan perbuatan yang dilakukan, karena ia menyadari bahwa Allah mengetahui semua yang ia lakukan bagaimanapun ia berusaha untuk menyembunyikannya.

  1. F.     Pimpinan Vs Pemimpin

“seorang pimpinan belum tentu dapat disebut sebagai pemimpin, demikian juga sebaliknya. Seorang pemimpin belum tentu menjadi pimpinan”. Itulah fakta yang umum terjadi pada kebanyakan pimpinan atau pemimpin model sekarang ini baik perusahaan bisnis atau organisasi sosial. Seharusnya seorang pimpinan adalah orang yang mempunyai kemampuan sebagai pemimpin[7], yaitu:

a)      Dapat dipercaya oleh followernya

b)      Mempunyai pengaruh positif yang kuat terhadap followernya

c)      Saling melayani dengan pengikutnya

d)     Mampu menjadi navigator yang andal

e)      Menumbuhkan kreativitas pengikutnya

Atau dengan kata lain seorang pimpinan adalah orang yang mempunyai kemampuan sebagai pemimpin yang didukung dengan “kekuasaan”, sehingga kemajuan organisasi yang dipimpin berbanding lurus dengan kemajuan para pengikutnya.

Tetapi seiring dengan berkembangnya zaman, arti kata pimpinan mulai bergeser kearah negatif (pimpinan hanya identik dengan kekuasaan, bukan kemampuan untuk memimpin, karena kebanyakan dari mereka agak lebih mementingkan diri/golongan & selalu melayani minta dilayani, dan jangan Tanya kenapa?

Sebaliknya, arti kata pemimpin juga bergeser pula kearah positif. Tapi jika tidak didukung oleh pimpinan yang tidak mempunyai “kekuasaan”, pemimpin yang sejati ini akan serupa seperti katak dalam tempurung.

Berikut adalah contoh tentang Pimpinan Vs Pemimpin: suatu ketika di depan salah satu customer, saya pernah mendengar pernyataan seorang pimpinan yang mengatakan “sekarang giliran dia menjadi pemimpin, nanti yang lain tunggu giliran”

Di lain kesempatan, customer tersebut pernah bertanya ke saya[8] perihal pernyataan tersebut, memangnya untuk menjadi seorang pemimpin harus menunggu giliran? Jika demikian, sesungguhnya siapa yang layak disebut pemimpin? Hanya orang-orang yang berada di kuadran delegating yang ideal untuk disebut pemimpin. Dengan demikian, banggakah anada jika pengikut anda menyebut anda sebagai pimpinan mereka? Itu semua kembali ke diri anda sendiri.

  1. G.    Tugas-tugas Kepemimpinan

Ragam corak atau tipe kepemimpinan tersebut disebabkan prestasi tentanng lingkungan yang berlainan. Adanya nilai-nilai social dan organisatoris yang berbeda, gaya kepemimpinan yang tidak sama. Namun demikian ada kesamaan-kesamaan yang tertentu yang inherent melihat pada tugas-tugas kepemimpinan[9], yaitu:

  1. Keharusan adanya kemampuan untuk mempengaruhi tingkah laku pegawai dari perilaku yang pada prinsipnya berorientasi kepada kepentingan pribadi kepada orientasi pencapaian tujuan organisasi
  2. Kesadaran tentang pentingnya pengaruh, persepsi, dan cara bekerjanya terhadap jalannya roda organisasi
  3. Pentingnya terlaksananya fungsi-fungsi manajemen seperti:
  • Perencanaan
  • Pengorganisasian
  • Penggerakan
  • Pengawasan/pengendalian
  • Penilaian secara efektif dan efisien
  1. Peranan selaku integrator dari berbagai sub sistem dalam organisasi agar janga sampai terjadi cara berpikir dan cara bekerja yang terkotak-kotak[10]
  2. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan pegawai yang disesuaikan dengan kemampuan organisasi
  3. Dan lain-lain

Langkah-langkah dalam Pelaksanaan Tugas Kepemimpinan:

Dalam rangka untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja seorang pemimpin harus:

1)      Mengetahui tugas pokok masing-masing

2)      Mengetahui jumlah pegawainya

3)      Mengetahui nama-nama para pembantunya

4)      Mengetahui kehadirannya pada setiap kerja

5)      Memperhatikan kelengkapan peralatan para pembantunya

6)      Mengadakan penilaian pekerja para pembantunya

7)      Mengetahui tugas atau pekerjaan pegawainya

8)      Mengambil langkah-langkah untuk perbaikan pekerjaan

9)      Memperhatikan karir dan nasib para pegawainya

10)  Memperhatikan kesejahteraan anggotanya

11)  Memelihara suasana kekeluargaan dalam lingkungan pekerjaan

Melaporkan tentang pekerjaannya kepada pimpinan atasannya

  1. H.    Kepemimpinan dalam Manajemen

Leadership biasanya termuat dalam literatur manajemen. Robert Tannebaum et al mendefinisikan leadership sebagai ‘interpersonal influence excercised in A situation and directed, through the communication process, toward the attainment of specialized goal or goals’[11].

Memimpin merupakan suatu kegiatan yang kontinyu. Hambatan-hambatan akan berdatangan sehingga kepemimpinan memerlukan sikap yang lincah. Perasaan anggota kelompok akan berubah, demikian pula kemampuan dan sikap mereka. Kepemimpinan bersifat dinamis, supaya selalu efektif perlu disesuaikan terus dengan keadaan.

Jenis kepercayaan yang digunakan mengikuti situasi kerjanya, perilaku kepemimpinan tidak selalu sama dalam setiap situasi. Seorang pemimpin akan terlibat dalam berbagai kondisi, oleh karena itu ia harus cukup fleksibel dan merupakan suatu sikap yang tidak mudah didapat.

Kepemimpinan manajer harus disesuaikan dengan gaya kepemimpinan untuk menghadapi suatu tugas tertentu, bukan sebaliknya.

Sesudah itu baru dapat dilakukan penyesuaian terhadap (a) keanggotaan kelompok untuk menyempurnakan hubungan kerja dengan manajer mereka (b) weenang formal manajer tersebut (c) struktur tugasnya dengan tetap memberikan kesempatan kepada inisiatif dan pilihan manajer tersebut.

Dari uraian tersebut dapat disusun beberapa jenis kepemimpinan[12] sebagai berikut:

  1. Kepemimpinan menurut situasinya. Manajer dan bawahannya menyesuaikan diri dengan situasi tersebut diikuti pulam dengan penyesuaian sikap antara manajer dan bawahannya secara timbale-balik.
  2. Kepemimpinan menurut perilaku pribadi. Pemimpin fleksibel menggunakan tindakan-tindakan yang sesuai untuk setiap situasi
  3. Kepemimpinan yang tugas sentries. Yakni menekankan pada pelaksanaan tugas pekerjaan dan penyelesaiannya.
  4. Kepemimpinan pribadi. Motivasi dan pengarahan menimbulkan kontak antar pribadi pegawai.
  5. Kepemimpinan demokratis
  6. Kepemimpinan otoriter
  7. Kepemimpinan paternalistis. Pengaruh kebapakan antara pemimpin dan kelompoknya.
  8. Kepemimpinan alami

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Bahwa kata ( خلىفة  ) pada mulanya berarti yang menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya. Dalam bahasa arab kata (     ملاىكة) adalah bentuk jamak dari kata  ( ملك ) malak terambil dari kata (  ألك ) atau  (    (مأكة     berarti mengutus, perutusan atau risalah. Malaikat adalah utusan-utusan tuhan untuk berbagai tuga. ada yang berpendapat bahwa kata “malak” terambil dari kata ( لأ ك ) berarti menyampaikan sesuatu. Malak atau malaikat adalah mahkluk yang menyampaikan sesuatu dari Alloh swt.

Sesungguhnya orang-orang yang meninggalkan kebenaran dan sesat dari jalan yang ditandai rambu-rambu Ilahi, mereka akan mendapatkan adzab yang pedih dari Allah pada hari hisab karena mereka melupakan kengerian-kengerian yang ada pada hari itu. Dan bahwa Allah akan menghisab setiap jiwa atas apa yang telah dia lakukan. Barang siapa yang mengotori dirinya dan membiarkannya menempuh jalan kemaksiatan, maka pasti akan mendapatkan adzab yang telah Aku tetapkan bagi orang-orang yang bermaksiat sebagai balasan yang setimpal

Rasulullah dalam sabdanya menyatakan bahwa pemimpin suatu kelompok adalah pelayan pada kelompok tersebut. Sehingga sebagai seorang pemimpin hendaklah dapat, mampu dan mau melayani, serta menolong orang lain untuk maju dengan ikhlas.

Kata “to lead” jelas diambil dari ekspresi Viking. Kepemimpinan adalah kemampuan meyakinkan orang lain supaya bekerja sama di bawah pimpinannya sebagai suatu tim untuk mencapai atau melakukan suatu tujuan tertentu.

Kepemimpinan berasal dari kata pemimpin, yang artinya adalah orang yang berada di depan dan memiliki pengikut, baik orang tersebut menyesatkan atau tidak. Ketika berbicara kepemimpinan maka ia akan berbicara mengenai perihal pemimpin, orang yang memimpin baik itu cara dan konsep, mekanisme pemilihan pemimpin, dan lain sebagainya

DAFTAR PUSTAKA

Hamka. 1982. Tafsir Al-Azhar juz 1. Jakarta: pustaka panjimas

Matutina, Doni C. dkk. 1992. Manajemen Personalia. Jakarta: Rineka Cipta

Rivai,Veithzal and Arviyan Arifin. 2009. Islamic Leadership. Jakarta: Bumi Aksara

Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-mishbah, jakarta: lentera hati

Siagian, SP. 1983. Bunga Rampai Manajemen Modern. Jakarta: Gunung Agung

Sigit, Soehardi. 1983. Teori Kepemimpinan dalam Manajemen. Yogyakarta: Armurrita

Terry, George R. 2009. Prinsip-prinsip Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara


[1] Ahmad Mushthafa Al-Maraghi. 1986. Tafsir Al-Maragi 23. Semarang: CV. Toha Putra Semarang. Hlm. 191.

[2] Ibid. Hlm. 192-193.

[3] Prof. Dr. H. Veithzal Rivai, M.B.A and Ir. H. Arviyan Arifin, Islamic Leadership, (Jakarta, 2009, Bumi Aksara), hlm. 106

[4] Ibid, hlm. 112

[5] Ibid, hlm 113

[6] Ibid, hlm. 136

[7] Ibid, hlm. 267

[8] Saya, di sini adalah contoh pengalam pribadi penulis buku Islamic Leadership

[9] Drs. Domi C. Matutina, dkk, Manajemen Personalia, (Jakarta: 1992, Rineka Cipta), hlm. 125

[10] DR. SP. Siagian, MPA, Bunga Rampai Manajemen Modern, (Jakarta: 1983, Gunung Agung), hlm. 9

[11] DRS. Soehardi Sigit, Teori Kepemimpinan dalam Manajemen, (Yogyakarta: 1983, Armurrita), hlm. 2

[12] George R. Terry, Prinsip-prinsip Manajemen, (Jakarta: 2009, Bumi Aksara), hlm. 154

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: